Rabu, 16 Mei 2012

MENUJU KESALEHAN POLITIK


 
Tiba-tiba saja kita ingat pesan Gus Dur itu tatkala menyaksikan berbagai dinamika sosial-politik akhir-akhir ini. Di berbagai media diungkapkan betapa proses demoralisasi partai politik secara sistematis terjadi. Kabar-kabar dari berbagai daerah tentang pembelian suara besar-besaran saat pemilu lalu. Antar politisi mulai tampak main sikut-sikutan.  Penanganan hukum masih berjalan terseok, khususnya kasus-kasus besar seperti BLBI dan century. Perilaku para petinggi partai dan anggota legislatif yang sangat pragmatis dan jauh dari rasa keprihatinan rakyat. Diramaikan lagi dengan kasus Mohammad Nazarudin.  Hal ini memperkeras suara gugatan kita, demorasi itu untuk siapa?
Demokrasi sebagai pilihan sistem bernegara-bangsa yang dianggap paling sesuai, seperti halnya system lainnya yang berserak di berbagai belahan dunia, pun digagas untuk tujuan mulia; kesejahteraan rakyat dan meningkatkan harkat martabat manusia. Demokrasi memandang penuh bahwa kekuasaan di tangan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi mensyaratkan tegaknya supremasi hukum demi terjaminnya ketertiban dan keadilan. Dan di Indonesia, demokrasi juga mewajibkan etik penghormatan terhadap tradisi dan nilai-nilai luhur bangsa ini.
Terjadi kesenjangan yang tajam antara tujuan demokrasi dan tujuan pelaku demokrasi, khususnya partai politik yang diujudkan oleh perilaku para elit dan kader-kadernya di eksekutif dan legislatif. Pragmatisme dan kepentingan pribadi yang kuat telah mengkaburkan tujuan demokrasi yang agung itu. Sehingga wajar, bila terdengar luas rasa ketidakpuasan dan hampir ketidakpercayaan di hati rakyat khususnya terhadap partai politik, yang justru merupakan lokomotif utama demokrasi.
Bila dari awal, saat mencari suara untuk kursi di DPR/DPRD sudah menghalalkan segala cara di pemilu, termasuk dengan membeli suara atau menipu suara rakyat. Langsung atau tidak juga dibantu oleh para penyelenggara pemilu (KPU). Bukan dengan kerja-kerja politik, membantu dan mendampingi rakyat dalam menghadapi masalah-masalahnya. Bukan dengan rajin bersilaturrahmi pada tokoh-tokoh masyarakat untuk belajar atau mendengarkan nasehat dan pandangan-pandangannya. Dan tidak melaksanakan peran agregasi kepentingan rakyat. Maka sosok yang lebih mirip ‘pedagang politik’ begini tentulah tak bisa diharapkan sebagai wakil rakyat, apalagi menjadi pemimpin rakyat.  
Sehingga logis bila banyak yang memandang bahwa sebagian besar eksekutif dan legislatif kita sibuk mencari ‘uang pengganti’, sekaligus ‘modal tambahan’ untuk pensiun atau persiapan pemilihan mendatang. Dan bukan sepenuhnya diabdikan untuk kepentingan rakyat. 
Sesungguhnyalah demokrasi juga mensyaratkan meleburnya kepentingan pribadi eksekutif, legislatif maupun para pengurus partai politik kedalam kepentingan rakyat, kepentingan bangsa dan negara. Adalah kader bangsa yang memiliki kematangan jiwa, karakter, keteladanan dan menyadari ‘maqom”-nya. Adalah kader bangsa yang memiliki ‘kesalehan politik’.  Yang memiliki ‘keberkahan’.  Tegas dan berani bersikap, mengambil tindakan untuk kepentingan orang banyak, meski tidak popular dan dimaki.
Memang, kanjeng Nabi Muhammad telah mengingatkan kita. Bahwa ada segumpal daging dalam tubuh manusia, jika itu baik maka pikiran, ucapan, dan tindakannya akan baik. Segumpal daging itu adalah hati. Dan dalam bernegara-bangsa, dalam berinstitusi, hatinya ada pada sang pemimpinnya. Maka kalau hati sang pemimpin baik, akan baiklah seluruh pikiran dan gerak langkah institusi itu. Akan terjaminlah tujuan demokrasi itu; meningkatkan kesejahteraan rakyat dan harkat martabat manusia. 
Dan Gus Dur selalu mengingatkan kita, hingga hari ini, bahwa hati (kejujuran)  harus menjadi dasar pijak laku demokrasi, laku bernegara-bangsa. Adalah nasehat untuk menjadi bangsa yang saleh. Karena kesalehan bersemayam didalam hati. Terutama, hati sang pemimpin! 

Minggu, 13 Mei 2012

Gejala Penyakit Tipes

Gejala Penyakit Tipes

tipesHati-hatilah pada saat musim hujan seperti sekarang ini. Selain banyak bakteri yang berkembang biak kadangkala prilaku hidup kita belum sehat. Sertingkali kita jajan dipinggir jalan yang sudah barang tentu banyak debu yang menempel di jajanan tersebut. Makan bakso, saos satu botol kita habiskan sendiri….(mentang-mentang gratis). Namun prilaku hidup kita inilah yang banyak mendatangkan penyakit, salah satunya adalah tipes. Penyakit tipes disebabkan oleh Bakteri Salomenella Typhosa……nama kerannya tersebut sekeren bahaya yang ditimbulkannya. Kuman ini lebih banyak menular lewat makanan dan minuman, tinja dan air seni yang dibawa oleh lalat…..(nah lo..) Kuman Sallomella termasuk genus bakteri entrobakteria gram negatif yang berbentuk tongkat dengan masa inkubasi kuman dalam tubuh 5-12 hari. Nama keren bakteri tipes diberikan oleh Pak tua Edward Salmon, seorang ahli patologi dari Amerika, walaupun rekannya theobold Smith yang pertama kali menemukan bakterium pada Tahun 1885 pada tubuh babi.
Pada demam tifoid/tipes ini, ada beberama masa ketika kuman masuk ke dalam tubuh penderita, diantaranya:
Masa inkubasi (saat pertama kali kuman ini masuk kemudian tidur sebentar untuk menyiapkan amunisi yang diperluan untuk menyerang tubuh kita), Masa ini berlangsung 7-12 hari, walaupun pada umumnya adalah 10-12 hari. Pada awal penyakit ini keluhan dan gejala penyakit ini tidaklah khas, biasanya berupa:
  1. Anoreksia (‘ga nafsu makan, bukan karena makanannya g’ enak lho..)
  2. Rasa malas
  3. Sakit kepala bagian depan
  4. Nyeri otot
  5. Lidah kotor
  6. Gangguan perut (perut meragam dan sakit)
Gejala Khas dari demam ini?
Biasanya jika gejala khas itu yang tampak, diagnosis kerja pun bisa langsung ditegakkan. Yang termasuk gejala khas Demam tifoid adalah sebagai berikut.
Minggu Pertama (awal terinfeksi)
Setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari, gejala penyakit itu pada awalnya sama dengan penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam tinggi yang berpanjangan yaitu setinggi 39ºc hingga 40ºc, sakit kepala, pusing, pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk, dengan nadi antara 80-100 kali permenit, denyut lemah, pernapasan semakin cepat dengan gambaran bronkitis kataral, perut kembung dan merasa tak enak,sedangkan diare dan sembelit silih berganti.
Pada akhir minggu pertama,diare lebih sering terjadi. Khas lidah pada penderita adalah kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta bergetar atau tremor. Episteksis dapat dialami oleh penderita sedangkan tenggorokan terasa kering dan beradang. Jika penderita ke dokter pada periode tersebut, akan menemukan demam dengan gejala-gejala di atas yang bisa saja terjadi pada penyakit-penyakit lain juga.
Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen disalah satu sisi dan tidak merata, bercak-bercak ros (roseola) berlangsung 3-5 hari, kemudian hilang dengan sempurna. Roseola terjadi terutama pada penderita golongan kulit putih yaitu berupa makula merah tua ukuran 2-4 mm, berkelompok, timbul paling sering pada kulit perut, lengan atas atau dada bagian bawah, kelihatan memucat bila ditekan. Pada infeksi yang berat, purpura kulit yang difus dapat dijumpai. Limpa menjadi teraba dan abdomen mengalami distensi.
Minggu Kedua
Jika pada minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, yang biasanya menurun pada pagi hari kemudian meningkat pada sore atau malam hari. Karena itu, pada minggu kedua suhu tubuh penderita terus menerus dalam keadaan tinggi (demam). Suhu badan yang tinggi, dengan penurunan sedikit pada pagi hari berlangsung. Terjadi perlambatan relatif nadi penderita. Yang semestinya nadi meningkat bersama dengan peningkatan suhu, saat ini relatif nadi lebih lambat dibandingkan peningkatan suhu tubuh.
Gejala toksemia (ketika kuman sudah masuhk aliran darah) semakin berat yang ditandai dengan keadaan penderita yang mengalami delirium. Gangguan pendengaran umumnya terjadi. Lidah tampak kering,merah mengkilat. Nadi semakin cepat sedangkan tekanan darah menurun, sedangkan diare menjadi lebih sering yang kadang-kadang berwarna gelap akibat terjadi perdarahan. Pembesaran hati dan limpa. Perut kembung dan sering berbunyi. Gangguan kesadaran. Mengantuk terus menerus, mulai kacau jika berkomunikasi dan lain-lain.
Minggu Ketiga
Suhu tubuh berangsung-angsur turun dan normal kembali di akhir minggu. Hal itu jika terjadi tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik, gejala-gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi perdarahan dan perforasi cenderung untuk terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus. Sebaliknya jika keadaan makin memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya tanda-tanda khas berupa delirium atau stupor,otot-otot bergerak terus, inkontinensia alvi dan inkontinensia urin.
Meteorisme dan timpani masih terjadi, juga tekanan abdomen sangat meningkat diikuti dengan nyeri perut. Penderita kemudian mengalami kolaps. Jika denyut nadi sangat meningkat disertai oleh peritonitis lokal maupun umum, maka hal ini menunjukkan telah terjadinya perforasi usus sedangkan keringat dingin,gelisah,sukar bernapas dan kolaps dari nadi yang teraba denyutnya memberi gambaran adanya perdarahan. Degenerasi miokardial toksik merupakan penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid pada minggu ketiga.
Minggu Keempat
Merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis.
Komplikasi jika tidak ditangani segera?
1. Komplikasi Intestinal
  • Perdarahan usus
  • Perforasi usus
  • Ileus paralitik
2. Komplikasi Ekstra -Intestinal
  • Komplikasi Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatanseptik),miokarditis,trombosis dan tromboflebitis
  • Komplikasi darah : anemia hemolitik ,trombositopenia, dan /atau Disseminated
  • Intravascular Coagulation (DIC) dan Sindrom uremia hemolitik
  • Komplikasi paru : Pneumonia,empiema,dan pleuritis
  • Komplikasi hepar dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistitis
  • Komplikasi ginjal : glomerulonefritis,pielonefritis, dan perinefritis
  • Komplikasi tulang : osteomielitis,periostitis,spondilitisdan Artritis
  • Komplikasi Neuropsikiatrik : Delirium, meningismus, meningitis, polineuritisperifer, sindrom guillain-barre, psikosis dan sindrom katatonia
Langkah terbaik adalah segera mungkin konsultasikan dengan dokter.
(Dari berbagai sumber)

Jumat, 11 Mei 2012

RENDAH DIRI SUATU AKHLAQ MULIA

Alhamdulillah Segala puji milik yang Maha Kuasa atas segala karuniaNya yang telah diberikan kepada kami sehingga kami telah menjalankan aktifitas sehari-hari. Amin..
Sholawat dan salam kami haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai hamba yang menempuh sebuah jalan menuju kepada Allah (Salik). Hal-hal yang berhubungan dengan adab harus diperhatikan antara lain adalah tawadhu’. Dikatakan Tawadhu’ adalah anugrah Allah yang tidak pernah diiri dengki orang dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belaskasihan. Kemuliaan terletak pada sikap tawadhu’ dan orang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah mendapatkannya.
Abu Yazid ditanya, Bisahkah seseorang mencapai sifat Tawadhu’?
Dijawabnya, jika ia tidak menisbatkan dirinya pada sesuatu maqom dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun diantara umat manusia didunia ini yang lebih buruk dari dirinya.
Tawadhu’ atau Rendahdiri itu ada didalam Hati, dan ketika salah seorang sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap rendahhati dalam prilaku lahiriahnya saja, dengan mata yang memandang kebawah dan bahu yang rendah ia berkata kepadanya “Wahai sahabat Rendahdiri itu disini, sambil menunjuk di dadanya, bukan disini, sambil menunjuk bahunya.
Allah juga berfirman dalam Al-qur’an yang artinya “Hamba-hamba Ar-Rohan yaitu orang-rang yang berjalan di muka bumi ini dengan sikap rendahdiri”, Artinya Hamba-hamba Allah itu berjalan dimuka bumi dengan penuh husyu’ dan tawadhu’.
Rasa rendahdiri (tawadhu’) itu dihadapan Allah itu memang sebuah akhlaq yang terpuji yang tidak hanya dilakukan oleh manusia, bahkan makhluq lain pun harus tawadhu’ dihadapan Allah seperti yang di wahyukan oleh Allah kepada gunung “Hai Gunung-gunung, Aku akan berbicara dengan seorang Nabi disalah satu puncak diantaramu. Maka gunung-gunung berlomba-lomba meninggalkan diri dengan sombongnya. Sedangkan Gunung Thurusina justru merendahkandiri dengan penuh kerendahanhati. Maka Allah SWT lalu berbicara kepada Nabi Musa as dipuncak gunung ini (Thurusina) dikarenakan tawadhu’nya. Contoh lain ketika Allah SWT menenggelamkan kaum Nabi Nuh as Gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri tetapi bukit judy merendahkan dirinya karena itu Allah SWT menjadikan sebagai tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as.

INDAHNYA QONA'AH

Pujisyukur kami haturkan kepada Allah atas hidayah dan taufikNya.
Sholawat dan salam semoga tetap dipangkuan Nabiyullah Muhammad SAW. pada kesempatan ini kami ingin membahas tentang pentingnya Qona’ah atau menemukan kecukupan di dalam apa yang ada dan tidak menginginkan apa yang tidak ada.
Orang yang merasa Qona’ah akan menemukan bubur yang lezat dan orang yang selalu kembali kepada Allah SWT. dalam segala hal akan di anugerahi Qona’ah (Qiil).
Dalam sebuah cerita, ada seorang laki-laki melihat seorang yang bijaksana sedang mengunyah potongan-potongan sayur yang di buang di tempat air, dan berkata kepadanya : “jika saja anda mau mengabdi kepada sultan, niscaya anda tidak perlu makan makanan begini”. Orang itu menjawab : “Dan anda, seandainya anda mau berqona’ah dengan makanan begini, niscaya anda tidak perlu mengabdi kepada sultan”.
Di katakan, Allah SWT menempatkan 5 perkara dalam 5 tempat :
1)       Keagungan dalam ibadah.
2)       Kehinaan dalam dosa.
3)       Kehidmatan dalam bangun malam.
4)       Kebijaksanaan dalam perut kosong.
5)       Kekayaan atau cukup dalam Qona’ah.
Salah seorang sufi bertanya: “siapakah orang yang paling Qona’ah di antara umat manusia?” Ia menjawab: “Yaitu orang yang paling berguna bagi umat manusia dan paling sedikit upahnya”.
Orang yang menangani urusan dunia dengan Qona’ah dan tidak bergegas-gegas, tapi menangani urusan akhirat dengan penuh kerakusan dan ketergesaan, menangani urusan agama dengan ilmu dan ijtihad adalah orang yang cerdas. (Abu Bakar Al-Maroghy).
Allah berfirman dalam kitabNya :
ان الابرار لفى نعيم وان الفجّار لفى جحيم
Artinya : ”Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka jahim”.
Perlu diketahui bahwa kata Na’im adalah qona’ah di dunia dan kata jahim adalah kerakusan di dunia. Jadi orang yang hidup di dunia selalu berQona’ah, balasannya adalah surga, sebaliknya bila selama hidupnya selalu dalam kerakusan, maka balasannya di akhirat nanti adalah neraka jahim. Naudzubillah.
Semoga kita ditakdirkan oleh Allah SWT manjadi orang yang bias meninggalkan keinginan terhadap apa yang telah hilang atau yang tidak kita miliki dan manghindari ketergantungan kepada apa yang kita miliki. Amiin….