Senin, 27 Desember 2010

LOWONGAN S1 KEPERAWATAN STIKES


Di butuhkan tenaga pengajar ( dosen) S1 Keperawatan 
Syarat-syarat :
  1. Lulusan S1 Keperawatan
  2. IPK minimal 3.00
  3. Pernah mengajar / mempunyai bakat mengajar
  4. Disiplin dan mempunyai semangat memajukan instansi
  5. Mampu bekerjasama dengan Tim
  6. Di utamakan yg berdomisili di Jombang dan sekitarnya. 
Lamaran di tulis dengan tangan sendiri dan dikirimkan ke : 
STIKES BAHRUL 'ULUM  Jl.K.H. Wahab Hasbullah Gang IV Tambakberas Jombang.
Telpon : (0321) 876040 
Info lebihlanjut hubungi : B.Laila ( 085259729924)

Minggu, 19 Desember 2010

GODAAN CALON PENGHAFAL AL-QUR'AN

Setiap jalan menuju kebaikan mesti dipenuhi “duri” yang menghalangi “pejalan kaki” untuk sampai pada tujuan. Allah swt secara eksplisit menyatakan bahwa siapa saja yang ingin meraih derajat keberuntungan (ashabul maimanah), dia dipersyaratkan untuk mampu melewati “al-‘aqabah (jalan mendaki)”. Demikian juga halnya dengan kegiatan menghafal al-Quran, tidak alfa dari godaan tersebut.
Menghafal al-Quran merupakan aktifitas yang sungguh sangat mulia, baik di hadapan Allah maupun dalam pandangan manusia. Sedemikian banyak waktu yang tercurah, konsentrasi pikiran yang terpusat, bahkan tenaga dan biaya juga ikut terkuras. Semua diniatkan untuk gapai ridlo Allah, tanpa ada hasrat sedikitpun menjadikannya sebagai sumber penghasilan ataupun sanjungan. Di balik kilau cahaya kemuliaan tersebut, tersembur pula serabut-serabut duri “godaan” yang senantiasa menghadang sewaktu-waktu. Jadi, siapapun yang pernah menjalani proses mengahafal al-Quran bisa dipastikan pernah merasakan pahitnya cobaan dan manisnya godaan.
Tentu, jenis cobaan dan godaan tiap-tiap orang berbeda. Adapun kemampuan menghalau godaan itu sangat tergantung pada tingkat ketulusan niat dan kedalaman iman yang terpatri di hati. Cobaan dan godaan calon penghafal al-Quran muncul dari dua arah; eksternal dan internal. Di samping menjadi faktor pendukung kegiatan menghafal, Orangtua atau keluarga seringkali juga menjadi faktor penghambat. Si santri sebelum berangkat untuk menghafal al-Quran acapkali orangtua atau keluarga mengatakan: “nak, mumpung umurmu masih muda teruskan sekolahmu saja hingga ke perguruan tinggi, agar mudah cari pekerjaan. Nak, waktu tiga atau empat tahun untuk menghafal al-Quran itu cukup lama dan memakan biaya banyak, namun tidak ada ijazah yang bisa digunakan melamar pekerjaan, bagaimana nasib masa depanmu kelak? Nak, menghafal al-Quran itu usaha yang berat dan lebih berat lagi menjaganya, kenapa kamu kok cari sesuatu yang susah, untuk apa?”. Mendengar ucapan demikian, si santri biasanya mentalnya langsung drop (anjlok) lalu mulai bimbang dan akhirnya tidak jadi menghafal. Inilah contoh cobaan eksternal yang bisa mengubur “cita-cita suci” itu.
Tak kalah hebatnya, cobaan internal juga mampu membuat si santri terperosok ke jurang kegagalan. Godaan “lawan jenis” menempati urutan pertama dari cobaan-cobaan internal yang ada. Semenjak saya membuka layanan konsultasi tahfidz online di blog cahaya qurani dua tahun lalu, 80% keluhan kesulitan menghafal dari para penanya adalah godaan asmara, terutama setelah hafalan mereka sampai pada sepertiga terakhir (juz 20 keatas).
Memang agak misterius, apakah godaan itu satu paket (built-in) dengan al-Quran yang akan dihafal, ataukah itu gejala pubertas biasa yang dialami hampir semua remaja usia dua puluhan tahun? Ibarat virus, godaan asmara ini mampu menggerogoti konsentrasi dan keseriusan hafalan. Betul sekali sebuah ungkapan al-Quran, bahwa Allah tidak akan memberikan dua hati sekaligus dalam tubuh satu orang (min qalbaini fi jaufih). Menghafal al-Quran tergolong “mega proyek” lantaran ia butuh energi dan perhatian yang luar biasa. Ada 6000-an ayat (77436 kata) yang akan ditransfer ke memori otak, di sini diperlukan ketangguhan fisik dan psikis, serta konsistensi dalam kurun waktu 1-3 tahun. 
Umumnya, otak kita mampu mentransfer satu halaman al-Quran dalam waktu satu jam dengan kondisi kesehatan fit dan full konsentrasi. Namun, jika konsentrasi menurun 20-30% saja, maka waktu yang dibutuhkannya menjadi dua kali lipat alias dua jam. Lalu bagaimana dengan konsentrasi yang hanya tersisa 30%? Mungkin butuh waktu satu minggu untuk menghafal satu halaman saja.
Biasanya santri yang terinfeksi virus asmara saat menghafal, adalah santri yang “mudzabdzab (cita-citanya mengambang)” dan santri yang “ikut-ikutan” tanpa ada landasan pemikiran yang kokoh. Ibarat sapu lidi, yang ikatannya kuat akan susah dimasuki lidi lagi. Pikiran yang kurang fokus, akan menyisakan ruang-ruang kosong dalam otak dan itu rentan kemasukan “virus asmara”, lalu ia mengendap dan mengakar kuat dalam sel-sel syaraf. Tidak salah memang jika alm. Meggy Z mendendangkan: “rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa”. Layaknya seorang tamu, kadang cinta itu hanya mampir sesaat saja dalam bayangan. Tapi bila pemiliknya betah berlama-lama dengan tamu itu, semakin susah pulang tamu itu, bahkan ikut tinggal bersama.
Hidup itu sebuah pilihan, masing-masing ada konsekwensinya. Keputusan kita untuk menghafal al-Quran mengandung beberapa konsekwensi, diantaranya: kurang tidur, waktu santai begitu sempit, sering pusing, studi lanjut mungkin terhenti. Tetapi, di balik itu semua, yakinlah bahwa otak kita akan semakin cerdas, sikap kita semakin bijak, masa depan insyaallah dicukupi oleh Allah. Sebaliknya, hidup glamour dan menuruti hawa nafsu di waktu muda mengandung konsekwensi hidup yang sempit, mudah stress (ma’isyatan dlankan). Marilah wahai saudaraku, kembali ke starting point (khittah) dimana niat telah bulat  dan rencana sudah matang untuk menghafal. Rel harapan yang mulai agak belok segera diluruskan agar kereta sukses melaju cepat menuju cita-cita suci nan abadi.
Dalam beberapa kasus, santri penghafal al-Quran itu mempunyai daya pikat dan memiliki pusaran magnet karisma yang kuat, sehingga “permintaan” untuk menjadi pendamping hidup sering melimpah. Kemana saja orang berebut untuk mendapatkan sang idola ini. Sisi lain, proses menghafalnya belum tuntas dan upaya pendalaman ulumul quran-nya juga belum tersentuh. Tawaran menggiurkan ini biasanya datang dari keluarga pesantren, pemilik perusahaan, saudagar kaya dll. Akibatnya, beberapa tunas harapan ini rela dipetik kendati hafalan dan ilmunya masih prematur. Walhasil, harapan untuk menjadi penghafal al-Quran terkubur pelan-pelan lalu hanyut menghilang bersama waktu. Seandainya godaan tersebut dituruti, kita sesungguhnya pada saat itu telah terjebak nafsu dengan berdalih mengikuti irama takdir, padahal masih memungkinkan untuk bersabar sejenak, berupaya maksimal, sebab hal ini menjadi poin tertinggi dalam menapaki tangga kesuksesan hakiki di sisi Allah. Bukankah besarnya upah itu ditentukan oleh besarnya keletihan (al-ajru biqadril kaddi)?
Cobaan atau godaan lain yang perlu diwaspadai adalah rasa kurang konfiden (percaya diri). Seakan orang lain begitu cepat dalam menyelesaikan hafalannya atau seakan begitu susah kita melancarkan hafalan dan  tidak ada progres sama sekali bahkan hafalannya sering tambal-sulam, timbul-tenggelam, jatuh-bangun. Sekiranya dianggap bahwa hanya kita sendiri yang seperti itu, yakinlah semua orang yang menghafal al-Quran pasti pernah memiliki perasaan “minder” semacam itu. Solusi dari persoalan ini hanya satu, yakni perbanyak muroja’ah apapun yang terjadi, jangan pedulikan “momok” itu, kelak  waktulah yang akan menjawab bahwa inilah buah dari kerja kerasmu dulu, nikmati kesuksesan di hari ini, hafalan lancar, hidup makmur, pikiran tenang, keluarga bahagia. Siapapun tahu bahwa hafalan itu berkembang secara abstrak, kelancarannya tidak bisa prediksi dan tidak matematis. Ibarat jalan berpasir, dia akan menjadi rata dan rapi, manakala sering diinjak dan dilewati. Dan ini butuh waktu lama, tidak mungkin diraih secara instan, bim salabim.  Semoga tekad yang kuat dan motivasi yang membara mampu menghalau semua cobaan dan godaan di atas, amin.

Kamis, 09 Desember 2010

SEJARAH DI MULAINYA 1 MUHARRAM


Mumpung masih ingat sedikit-sedikit dari keterangan Khotib pada jum'atan kali ini, Khotib memberi penjelasan bahwa di mulainya 1 Muharram / penanggalan Hijriyah itu pada masa Umar bin Khottob. Pada waktu itu islam telah menyebar keberbagai penjuru dunia sehingga wilayah islam sangat luas. Maka timbullah berbagai penarikan pajak, zakat dll pada wilayah-wilayah islam tuk di kumpulkan pada pemerintahan pusat. nah karena pada waktu itu belum ada penanggalan sehingga kesulitan kapan zakat / pajak itu dikumpulkan maka mulailah terpikirkan untuk membuat sebuah penanggalan sendiri. Berbagai usulan telah masuk diantaranya bagaimana kalau mulainya dimulai ketika Nabi dilahirkan, ada yg mengusulkan bagaimana kalau dimulai ketika nabi wafat, dan ada yg mengusulkan bagaimana kalau dimulai ketika Nabi Hijrah ke Yasrib ( Madinah). Nah pendapat yang terakhir inilah yang dipakai. Jadi mulainya 1 Hijriyah dimulai ketika Nabi Pindah/Hijrah dari Makkah ke Yasrib ( Madinah). Nah untuk keterangan selanjutnya Kalian bisa buka di wikipedia/ tulisan di bawah ini : 
Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (Bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 - 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36). Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah. Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab.
BAGI KALIAN YANG MAU PUASA PADA AWAL HIJRIYAH SILAHKAN  : karena Puasa adalah sebagian dari kesabaran, dan melatih diri kita untuk selalu intropeksi.

HIZB BAHR IMAM SADZILI.

SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA. MARI KITA DENGARKAN BERSAMA .

Senin, 06 Desember 2010

DOA AGAR CEPAT MENDAPATKAN JODOH

SEMOGA DOA INI DAPAT MEMBANTU SAUDARA-SAUDARKU YANG BELUM MENDAPATKAN JODOH AGAR CEPAT MENDAPATKANNYA. DAN INGAT INI ADALAH SEBUAH IKHTIAR DAN KEPUTUSANNYA ADALAH DI TANGGAN ALLAH SWT .

DOA MALAM 10 BULAN MUHARRAM / ASYURO'

Dan di sunnahkan puasa pada tgl 9( Tasu'a') , 10 ( Asura') dan 11Muharram.  semoga bermanfaat . amin

Minggu, 05 Desember 2010

DOA AWAL DAN AKHIR TAHUN BULAN MUHARRAM / SURO

DOA AWAL TAHUN DI BACA HABIS MAGHRIB TGL 1 MUHARRAM





DAN DOA AKHIR TAHUN DI BACA SETELAH ASHAR TGL 29 DZULHIJJAH

SEMOGA BERMANFAAT. AMIN.

DOA DIATAS DAPAT ANTUM DOWNLOUD DISINI UNTUK AWAL TAHUN  DAN DISINI  UNTUK AKHIR TAHUN


FENOMENA TANDA HITAM DI DAHI BENARKAH SUNNAH

Oleh Dafid Fuadi (Alumnus Pesantren)
Dalam Surat Al-Fath ayat 29 dinyatakan, yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).
Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan. Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik. Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyuan. Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702). Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr). Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”. Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”. Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Cirri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth). Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi.?