Senin, 27 Desember 2010

LOWONGAN S1 KEPERAWATAN STIKES


Di butuhkan tenaga pengajar ( dosen) S1 Keperawatan 
Syarat-syarat :
  1. Lulusan S1 Keperawatan
  2. IPK minimal 3.00
  3. Pernah mengajar / mempunyai bakat mengajar
  4. Disiplin dan mempunyai semangat memajukan instansi
  5. Mampu bekerjasama dengan Tim
  6. Di utamakan yg berdomisili di Jombang dan sekitarnya. 
Lamaran di tulis dengan tangan sendiri dan dikirimkan ke : 
STIKES BAHRUL 'ULUM  Jl.K.H. Wahab Hasbullah Gang IV Tambakberas Jombang.
Telpon : (0321) 876040 
Info lebihlanjut hubungi : B.Laila ( 085259729924)

Minggu, 19 Desember 2010

GODAAN CALON PENGHAFAL AL-QUR'AN

Setiap jalan menuju kebaikan mesti dipenuhi “duri” yang menghalangi “pejalan kaki” untuk sampai pada tujuan. Allah swt secara eksplisit menyatakan bahwa siapa saja yang ingin meraih derajat keberuntungan (ashabul maimanah), dia dipersyaratkan untuk mampu melewati “al-‘aqabah (jalan mendaki)”. Demikian juga halnya dengan kegiatan menghafal al-Quran, tidak alfa dari godaan tersebut.
Menghafal al-Quran merupakan aktifitas yang sungguh sangat mulia, baik di hadapan Allah maupun dalam pandangan manusia. Sedemikian banyak waktu yang tercurah, konsentrasi pikiran yang terpusat, bahkan tenaga dan biaya juga ikut terkuras. Semua diniatkan untuk gapai ridlo Allah, tanpa ada hasrat sedikitpun menjadikannya sebagai sumber penghasilan ataupun sanjungan. Di balik kilau cahaya kemuliaan tersebut, tersembur pula serabut-serabut duri “godaan” yang senantiasa menghadang sewaktu-waktu. Jadi, siapapun yang pernah menjalani proses mengahafal al-Quran bisa dipastikan pernah merasakan pahitnya cobaan dan manisnya godaan.
Tentu, jenis cobaan dan godaan tiap-tiap orang berbeda. Adapun kemampuan menghalau godaan itu sangat tergantung pada tingkat ketulusan niat dan kedalaman iman yang terpatri di hati. Cobaan dan godaan calon penghafal al-Quran muncul dari dua arah; eksternal dan internal. Di samping menjadi faktor pendukung kegiatan menghafal, Orangtua atau keluarga seringkali juga menjadi faktor penghambat. Si santri sebelum berangkat untuk menghafal al-Quran acapkali orangtua atau keluarga mengatakan: “nak, mumpung umurmu masih muda teruskan sekolahmu saja hingga ke perguruan tinggi, agar mudah cari pekerjaan. Nak, waktu tiga atau empat tahun untuk menghafal al-Quran itu cukup lama dan memakan biaya banyak, namun tidak ada ijazah yang bisa digunakan melamar pekerjaan, bagaimana nasib masa depanmu kelak? Nak, menghafal al-Quran itu usaha yang berat dan lebih berat lagi menjaganya, kenapa kamu kok cari sesuatu yang susah, untuk apa?”. Mendengar ucapan demikian, si santri biasanya mentalnya langsung drop (anjlok) lalu mulai bimbang dan akhirnya tidak jadi menghafal. Inilah contoh cobaan eksternal yang bisa mengubur “cita-cita suci” itu.
Tak kalah hebatnya, cobaan internal juga mampu membuat si santri terperosok ke jurang kegagalan. Godaan “lawan jenis” menempati urutan pertama dari cobaan-cobaan internal yang ada. Semenjak saya membuka layanan konsultasi tahfidz online di blog cahaya qurani dua tahun lalu, 80% keluhan kesulitan menghafal dari para penanya adalah godaan asmara, terutama setelah hafalan mereka sampai pada sepertiga terakhir (juz 20 keatas).
Memang agak misterius, apakah godaan itu satu paket (built-in) dengan al-Quran yang akan dihafal, ataukah itu gejala pubertas biasa yang dialami hampir semua remaja usia dua puluhan tahun? Ibarat virus, godaan asmara ini mampu menggerogoti konsentrasi dan keseriusan hafalan. Betul sekali sebuah ungkapan al-Quran, bahwa Allah tidak akan memberikan dua hati sekaligus dalam tubuh satu orang (min qalbaini fi jaufih). Menghafal al-Quran tergolong “mega proyek” lantaran ia butuh energi dan perhatian yang luar biasa. Ada 6000-an ayat (77436 kata) yang akan ditransfer ke memori otak, di sini diperlukan ketangguhan fisik dan psikis, serta konsistensi dalam kurun waktu 1-3 tahun. 
Umumnya, otak kita mampu mentransfer satu halaman al-Quran dalam waktu satu jam dengan kondisi kesehatan fit dan full konsentrasi. Namun, jika konsentrasi menurun 20-30% saja, maka waktu yang dibutuhkannya menjadi dua kali lipat alias dua jam. Lalu bagaimana dengan konsentrasi yang hanya tersisa 30%? Mungkin butuh waktu satu minggu untuk menghafal satu halaman saja.
Biasanya santri yang terinfeksi virus asmara saat menghafal, adalah santri yang “mudzabdzab (cita-citanya mengambang)” dan santri yang “ikut-ikutan” tanpa ada landasan pemikiran yang kokoh. Ibarat sapu lidi, yang ikatannya kuat akan susah dimasuki lidi lagi. Pikiran yang kurang fokus, akan menyisakan ruang-ruang kosong dalam otak dan itu rentan kemasukan “virus asmara”, lalu ia mengendap dan mengakar kuat dalam sel-sel syaraf. Tidak salah memang jika alm. Meggy Z mendendangkan: “rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa”. Layaknya seorang tamu, kadang cinta itu hanya mampir sesaat saja dalam bayangan. Tapi bila pemiliknya betah berlama-lama dengan tamu itu, semakin susah pulang tamu itu, bahkan ikut tinggal bersama.
Hidup itu sebuah pilihan, masing-masing ada konsekwensinya. Keputusan kita untuk menghafal al-Quran mengandung beberapa konsekwensi, diantaranya: kurang tidur, waktu santai begitu sempit, sering pusing, studi lanjut mungkin terhenti. Tetapi, di balik itu semua, yakinlah bahwa otak kita akan semakin cerdas, sikap kita semakin bijak, masa depan insyaallah dicukupi oleh Allah. Sebaliknya, hidup glamour dan menuruti hawa nafsu di waktu muda mengandung konsekwensi hidup yang sempit, mudah stress (ma’isyatan dlankan). Marilah wahai saudaraku, kembali ke starting point (khittah) dimana niat telah bulat  dan rencana sudah matang untuk menghafal. Rel harapan yang mulai agak belok segera diluruskan agar kereta sukses melaju cepat menuju cita-cita suci nan abadi.
Dalam beberapa kasus, santri penghafal al-Quran itu mempunyai daya pikat dan memiliki pusaran magnet karisma yang kuat, sehingga “permintaan” untuk menjadi pendamping hidup sering melimpah. Kemana saja orang berebut untuk mendapatkan sang idola ini. Sisi lain, proses menghafalnya belum tuntas dan upaya pendalaman ulumul quran-nya juga belum tersentuh. Tawaran menggiurkan ini biasanya datang dari keluarga pesantren, pemilik perusahaan, saudagar kaya dll. Akibatnya, beberapa tunas harapan ini rela dipetik kendati hafalan dan ilmunya masih prematur. Walhasil, harapan untuk menjadi penghafal al-Quran terkubur pelan-pelan lalu hanyut menghilang bersama waktu. Seandainya godaan tersebut dituruti, kita sesungguhnya pada saat itu telah terjebak nafsu dengan berdalih mengikuti irama takdir, padahal masih memungkinkan untuk bersabar sejenak, berupaya maksimal, sebab hal ini menjadi poin tertinggi dalam menapaki tangga kesuksesan hakiki di sisi Allah. Bukankah besarnya upah itu ditentukan oleh besarnya keletihan (al-ajru biqadril kaddi)?
Cobaan atau godaan lain yang perlu diwaspadai adalah rasa kurang konfiden (percaya diri). Seakan orang lain begitu cepat dalam menyelesaikan hafalannya atau seakan begitu susah kita melancarkan hafalan dan  tidak ada progres sama sekali bahkan hafalannya sering tambal-sulam, timbul-tenggelam, jatuh-bangun. Sekiranya dianggap bahwa hanya kita sendiri yang seperti itu, yakinlah semua orang yang menghafal al-Quran pasti pernah memiliki perasaan “minder” semacam itu. Solusi dari persoalan ini hanya satu, yakni perbanyak muroja’ah apapun yang terjadi, jangan pedulikan “momok” itu, kelak  waktulah yang akan menjawab bahwa inilah buah dari kerja kerasmu dulu, nikmati kesuksesan di hari ini, hafalan lancar, hidup makmur, pikiran tenang, keluarga bahagia. Siapapun tahu bahwa hafalan itu berkembang secara abstrak, kelancarannya tidak bisa prediksi dan tidak matematis. Ibarat jalan berpasir, dia akan menjadi rata dan rapi, manakala sering diinjak dan dilewati. Dan ini butuh waktu lama, tidak mungkin diraih secara instan, bim salabim.  Semoga tekad yang kuat dan motivasi yang membara mampu menghalau semua cobaan dan godaan di atas, amin.

Kamis, 09 Desember 2010

SEJARAH DI MULAINYA 1 MUHARRAM


Mumpung masih ingat sedikit-sedikit dari keterangan Khotib pada jum'atan kali ini, Khotib memberi penjelasan bahwa di mulainya 1 Muharram / penanggalan Hijriyah itu pada masa Umar bin Khottob. Pada waktu itu islam telah menyebar keberbagai penjuru dunia sehingga wilayah islam sangat luas. Maka timbullah berbagai penarikan pajak, zakat dll pada wilayah-wilayah islam tuk di kumpulkan pada pemerintahan pusat. nah karena pada waktu itu belum ada penanggalan sehingga kesulitan kapan zakat / pajak itu dikumpulkan maka mulailah terpikirkan untuk membuat sebuah penanggalan sendiri. Berbagai usulan telah masuk diantaranya bagaimana kalau mulainya dimulai ketika Nabi dilahirkan, ada yg mengusulkan bagaimana kalau dimulai ketika nabi wafat, dan ada yg mengusulkan bagaimana kalau dimulai ketika Nabi Hijrah ke Yasrib ( Madinah). Nah pendapat yang terakhir inilah yang dipakai. Jadi mulainya 1 Hijriyah dimulai ketika Nabi Pindah/Hijrah dari Makkah ke Yasrib ( Madinah). Nah untuk keterangan selanjutnya Kalian bisa buka di wikipedia/ tulisan di bawah ini : 
Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (Bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 - 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36). Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah. Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab.
BAGI KALIAN YANG MAU PUASA PADA AWAL HIJRIYAH SILAHKAN  : karena Puasa adalah sebagian dari kesabaran, dan melatih diri kita untuk selalu intropeksi.

HIZB BAHR IMAM SADZILI.

SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA. MARI KITA DENGARKAN BERSAMA .

Senin, 06 Desember 2010

DOA AGAR CEPAT MENDAPATKAN JODOH

SEMOGA DOA INI DAPAT MEMBANTU SAUDARA-SAUDARKU YANG BELUM MENDAPATKAN JODOH AGAR CEPAT MENDAPATKANNYA. DAN INGAT INI ADALAH SEBUAH IKHTIAR DAN KEPUTUSANNYA ADALAH DI TANGGAN ALLAH SWT .

DOA MALAM 10 BULAN MUHARRAM / ASYURO'

Dan di sunnahkan puasa pada tgl 9( Tasu'a') , 10 ( Asura') dan 11Muharram.  semoga bermanfaat . amin

Minggu, 05 Desember 2010

DOA AWAL DAN AKHIR TAHUN BULAN MUHARRAM / SURO

DOA AWAL TAHUN DI BACA HABIS MAGHRIB TGL 1 MUHARRAM





DAN DOA AKHIR TAHUN DI BACA SETELAH ASHAR TGL 29 DZULHIJJAH

SEMOGA BERMANFAAT. AMIN.

DOA DIATAS DAPAT ANTUM DOWNLOUD DISINI UNTUK AWAL TAHUN  DAN DISINI  UNTUK AKHIR TAHUN


FENOMENA TANDA HITAM DI DAHI BENARKAH SUNNAH

Oleh Dafid Fuadi (Alumnus Pesantren)
Dalam Surat Al-Fath ayat 29 dinyatakan, yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).
Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan. Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik. Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyuan. Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702). Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr). Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”. Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”. Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Cirri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth). Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi.?

Minggu, 28 November 2010

SHOLAWAT BERSAMA GUS DUR


Semoga Sholawatan diatas menjadi inspirasi bagi kita semua, tentang penting kita mengaji dan segala perangkatnya. Syari'at, Thoriqot, Ma'rifat dan hakikat. Agar hidup ini tentram tuk menggapai kebahagiaan Dunia dan Akhirat...dan selalu mendapat Ridho dari Allah SWT.
video diatas dapat di unggah pula pada youtobe :
http://www.youtube.com/watch?v=blkvJmDjAuQ

Sabtu, 27 November 2010

SHOLAWAT TARHIM


الصلاة والسلام عليك 
يا امام المجاهدين يا رسول الله
الصلاة والسلام عليك 
يا نا صرالهدى يا خير خلق الله
الصلاة والسلام عليك
يا ناصر الحق يا رسول الله 
الصلاة والسلام عليك 
يامن اسرى بك المهيمن ليلا نلت ما نلت والانام نيام 
وتقدمت للصلاة فصلى كل من في السماء وانت الامام
والي المنتهى رفعت كريما 
وسمعت النداء عليك السلام 
يا كريم الاخلاق يا رسول الله 
صلي الله عليك وعلي اليك واصحابك اجمعين 

Sabtu, 13 November 2010

DOA SHOLAT DHUHA




Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha-Mu

Kecantikan itu kecantikan-Mu

Keindahan itu keindahan-Mu

Kekuatan itu kekuatan-Mu

Kekuasaan itu kekuasaan-Mu

dan perlindungan itu perlindungan-Mu

Ya Allah, jika rizkiku masih di atas langit, turunkanlah

Jika ada di dalam bumi, keluarkanlah

Jika sukar, mudahkanlah

Jika haram, sucikanlah

Jika masih jauh, dekatkanlah

Berkah waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan, kekuasaan, dan perlindungan-Mu

Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh..

DOA SHOLAT TAHAJUD

 

Ya Allah, bagi-Mu segala puji

Engkaulah penegak langit dan bumi, dan alam semesta beserta segala isinya

Bagi-Mu lah segala puji

Engkaulah Raja Penguasa langit dan bumi

Bagi-Mu lah segala puji

Pemancar cahaya langit dan bumi

Bagi-Mu lah segala puji

Engkaulah yang benar-benar ada

dan janji-Mu adalah benar

dan perjumpaan-Mu itu adalah benar

dan firman-Mu adalah benar

dan surga adalah benar

dan neraka adalah benar

dan Nabi-nabi itu adalah benar

dan Nabi Muhammad SAW adalah benar

dan saat hari Kiamat itu benar

Ya Allah, kepada-Mu lah kami berserah diri (bertawakal)

kepada Engkau jugalah kami kembali

dan kepada-Mu lah kami rindu

dan kepada Engkau lah kami berhukum

Ampunilah kami atas kesalahan yang sudah kami lakukan sebelumnya, baik yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan

Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan yang terakhir

Tiada Tuhan melainkan Engkau ya Allah

yang menguasai seluruh alam

Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah

Jumat, 29 Oktober 2010

MBAH MARIJAN

 Kemarin lusa, tangal 26 Oktober 2010, Mas Penewu Suraksohargo atau yang lebih dikenal dengan nama mBah Maridjan, Sang Juru Kunci Gunung Merapi, diketemukan meninggal dunia dalam posisi bersujud di kediamannya di Desa Kinahrejo yang terletak di lereng Merapi, saat awan panas atau yang disebut masyarakat sekitar dengan “wedhus gembel” meluncur dan menyapu sekitarnya.
 Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun...Semoga amal baik mbah di terima disisi Allah swt. dan menjadi kematian yang baik/ Husnul Khotimah...amin.
yang patut kita catat dari sosok mbah Marijan adalah kesetian beliau dalam mengemban tugas, beliau seorang yang amanat, di salah satu TV suatu tadi pagi tgl 29 Oktober 2010 beliau pernah diwawancarai sekitar tahun 2006 tentang menagapa beliau waktu itu tidak mau turun gunung, padahal waktu itu dalam keadaan bahaya, beliau jawab " Aku iki mung di kon jogo gunung merapi, nek aku melu mudun jenenge aku ora tanggung jawab". ( aku ini suruh jaga Gunung merapi, kalau aku turun namanya aku tidak bertanggung jawab).Sungguh ucapan yang sangat berani/ menunjukkan tanggung jawab. namun masalahnya adalah waktu itu adalah dalam keadaan berbahaya..............????
Dalam masalah diatas terdapat beragam tanggapan.......Tapi bagi sosok Mbah Marijan bahaya atau tidak bahaya yang namanya amanat harus di laksanakan dan itu menjadi resiko dalam tugas. Subhanallah ..beliau selalu istiqomah......dan inilah yang patut kita contoh..Istiqomah dalam memegang amanah.
Sosok mbah Marijan juga di kenal dengan sosok yang sederhana..ini terlihat dari cara berpakaiannya dan rumah tinggalnya yg sangat sederhana. Beliau dalam berpakaian kebanyakan  mengenakan peci, sarung, blankon dan pakain batik. sungguh pakaian yang jauh dari kemewahan.
akhirnya marilah kita kirimkan fateha ke arwah mbahmarijan semoga di ampuni dosanya dan diterima amal baiknya ila arwahi mbah marijan lahu Alfatihah...........................................

Minggu, 17 Oktober 2010

CURAHAN JIWAKU 1

Kusadari aku telah lama hidup di dunia ini..ya kira-kira lebih dari 30 tahun, namun aku belum bisa merasakan  hikmah dalam hidup ini. apakah ini karena kebodohanku, karena setiap peristiwa yang kualami tidak banyak aku merenung tentang apa yang aku kerjakan ataupun apa akibat dst ?. Bodoh..ya itulah sosok gambaran hidupku. 
Namun sebagai manusia normal yang selalu ingin dekat dengan Tuhannya, aku berusaha untuk menarik diri kedalam hikmah dari setiap peristiwa yang kualami. Bukankah dalam al-qur'an banyak mengisyaratkan agar manusia banyak berpikir, merenung ? dalam al-qur'an kalimat afala tatafakkarun, afala tatadabbarun, afala ta'qilun. semuanya mengisyaratkan agar manusia selalu menggunakan otak / akalnya untuk merenungi setiap peristiwa yang dialaminya. 
Ya Allah....aku hambamu yang lemah..yang terlena dengan nafsu....sehingga banyak diperbudak olehnya....Ya Allah keluarkan hidupku dalam perbudakan dengan nafsuku. Aku ingin hidup dengan bimbingan hidayahmu dengan akalku yang Engkau bimbing ke jalanMu. Ya Allah keluarkan aku dari pikiran yang kotor yang selalu mengajakku untuk selalu bersuudzon kepada saudaraku sendiri. Ya Allah berilah aku selalu lindunganMu, Tanpamu aku bukanlah apa-apa. Aku hanyalah MahlukMu yang kecil yang tak berdaya sedikitpun di hadapanMu. Ya Allah bimbinghlah aku Ya Allah..................Aku tak kuasa , aku yang lemah, yang sombong, yang kecil, yang bodoh....itulah gambaranku Ya Allah. Bimbinglah aku ini Ya Allah agar menjadi Hambamu yang baik, sholeh dan selalu mendapatkan RidhoMu Ya Allah......................
Amin..amin.............................amin.

Kamis, 14 Oktober 2010

AMALAN-AMALAN MALAM JUM'AT ( SAYYIDUL AYYAM )

amalan -amalan pada malam jum'at banyak sekali, diantaranya yang sering menjadikan kebiasaan bagi kaum NU adalah membaca tahlil,/ yasin setelah sholat maghrib, ada juga yg membiasakan membaca surat al-Kahfi yang mempunyai fadhilah sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda : Barangsiapa membaca surah al-Kahfi pada malam jum'at atau hari jum'at maka ia akan diberi cahaya dari tempat ia membacanya sampai ke Makkah, dan diampuni dari jum'at itu sampai jum'at berikutnya .
bersambung

Rabu, 13 Oktober 2010

Keagungan Nabi dalam Barzanji

Keagungan Nabi dalam Barzanji


SASTRA ISLAMYaa Nabi salam 'alaika (Wahai Nabi, semoga kedamaian selalu tercurahkan kepadamu) Yaa Rasul salam 'alaika (Wahai Rasul, semoga kedamaian selalu tercurahkan kepadamu) Yaa habib salam 'alaika (Wahai sang kekasih, semoga kedamaian selalu tercurahkan kepadamu) Shalawatullah 'alaika (Semoga kemulyaan dari Allah selalu dilimpahkan kepadamu).Syair itu begitu akrab di telinga masyarakat Muslim Indonesia. Setiap saat, baik di rumah, surau, majelis taklim, maupun masjid, syair tersebut dikumandangkan untuk memuji Nabi Muhammad SAW. Apalagi pada bulan Rabiul Awal, yang merupakan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, pembacaan syair-syair pujian kepada Rasulullah, baik Diba' Barzanji, Burdah, Simthuddurar (Maulid Habsyi), bergema dalam berbagai kegiatan keagamaan. Tidak saja di Indonesia, tetapi juga sering dibaca umat Islam di Asia Tenggara dalam berbagai upacara keagamaan. Dan syair maulid Diba' Barzanji, Burdah, Simthuddurar dan lainnya, kini dibukukan dalam satu buku yang diberi nama Syaraf al-Anam.Umat Muslim Indonesia punya cara tersendiri dalam mengekspresikan rasa cintanya terhadap Rasulullah SAW. Pujian dan shalawat disuarakan bersama-sama secara khusyuk dan terkadang diiringi alunan musik tradisional, kompang, gambus, hadrah, rebana, dan lainnya. Kegiatan pembacaan syair maulid ini begitu semarak dalam semangat kebersamaan. Bagi umat Islam, pembacaan syair-syair maulid ini merupakan penghormatan dan pujian atas keteladanan penghulu umat, Muhammad SAW.Syair di atas adalah bait kedua dan ketiga dari nazhom Al-Barzanji. Namun demikian, saat pembacaan syair Burdah, Diba' atau al-Habsyi, syair ini juga sering dibaca, terutama ketika memasuki mahallu al-qiyam (tempat berdiri).Kitab Barzanji adalah buah karya Syekh Jafar Al Barzanji bin Husin bin Abdul Karim (1690-1766 M), seorang qadli (hakim) dari Mazhab Maliki yang bermukim di Madinah. Judul asli kitab tersebut, 'Iqd al-Jawahir (untaian permata). Namun, nama Barzanji (sang penulis--Red) lebih dikenal masyarakat Muslim ketimbang nama judul kitabnya. Dan pengucapan kata 'barzanji' secara fasih agaknya cukup menyulitkan lidah lokal Indonesia, sehingga kata tersebut teradaptasi menjadi berjanji.Karya sastra al-Barzanji ini begitu masyhur di Tanah Air. Syekh Nawawi al-Bantani telah mensyarahi (menjabarkan) isi kitab tersebut dan diberi judul Madarijus Shu`ud ila Iktisa` al-Burud. Beberapa ahli bahasa Arab menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Sastrawan WS Rendra pernah mementaskannya dalam Pagelaran Seni Teater Shalawat Barzanji beberapa tahun silam.Syair Barzanji yang dikenal juga dengan Maulid Barzanji mengisahkan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dalam untaian syair yang menakjubkan. Dalam garis besarnya, karya ini terbagi dua, yaitu natsar dan nazhom. Pada bagian natsar terdapat 19 subbagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi ah pada tiap-tiap rima akhir. Seluruhnya merunutkan riwayat Nabi Muhammad SAW, mulai dari saat-saat menjelang baginda Nabi dilahirkan hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian nazhom terdiri atas 16 subbagian yang memuat 205 untaian syair, dengan mengolah rima akhir nun.Di dalam kitab ini tidak terdapat informasi tentang tanggal, bulan, dan tahun suatu peristiwa sejarah secara detail. Kitab ini ditulis tidak dimaksudkan sebagai buku sejarah, namun data historis yang disajikan merujuk kepada Alquran, hadis, dan sirah nabawiyah. Syair ini merupakan karya sastra tentang riwayat hidup Rasulullah SAW dengan kekuatan bahasa, pemilihan kata yang apik dan serasi, serta metafor yang indah. Sebagai contoh, keluhuran sosok Rasulullah dianalogikan dengan benda-benda langit sebagai penghias alam semesta, bahkan lebih indah dari benda-benda itu.Cahaya di atas cahayaBahkan, Syekh Ja'far menggambarkan kehadiran sang Rasul di tengah umat Muslim dalam nazhom-nya pada baris keempat yang berbunyi :Asyraqa al-badru 'alaina fa...
atau juga kalian dapat baca juga di 
http://koran.republika.co.id/koran/14/35955/Keagungan_Nabi_dalam_Barzanji

Kamis, 07 Oktober 2010

HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA


Asas-asas Hukum Acara Peradilan Agama
A.1.  Asas Umum Lembaga Peradilan Agama
1)         Asas Bebas Merdeka
  Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negarayang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara hukumRepublik Indonesia.
Pada dasarnya azas kebebasan hakim dan peradilan yang digariskan dalam UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama adalah merujuk pada pasal 24 UUD 1945 dan jo. Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.
  Dalam penjelasan Pasal 1 UU Nomor 4 tahun 2004 ini menyebutkan “Kekuasaan kehakiman yang medeka ini mengandung pengertian di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara lainnya, dan kebebasan dari paksaan, direktiva atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisial kecuali dalam hal yang diizinkan undang-undang.”
2)        Asas Sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman
  Penyelenggara kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Semua peradilan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang. Dan peradilan Negara menerapkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila.
3)        Asas Ketuhanan
        Peradilan agama dalam menerapkan hukumnya selalu berpedoman pada sumber hokum Agama Islam, sehingga pembuatan putusan ataupun penetapan harus dimulai dengan kalimat Basmalah yang diikuti dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa.”
4)        Asas Fleksibelitas
Pemeriksaan perkara di lingkungan peradilan agama harus dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Adapun asas ini diatur dalam pasal 57 (3) UU Nomor 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama jo pasal 4 (2) dan pasal 5 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Untuk itu, pengadilan agama wajib membantu kedua pihak berperkara dan berusaha menjelaskan dan mengatasi segala hambatan yang dihadapi para pihak tersebut.
Yang dimaksud sederhana adalah acara yang jelas, mudah difahami dan tidak berbelit-belit serta tidak terjebak pada formalitas-formalitas yang tidak penting dalam persidangan. Sebab apabila terjebak pada formalitas-formalitas yang berbelit-belit memungkinkan timbulnya berbagai penafsiran.
Cepat yang dimaksud adalah dalam melakukan pemeriksaan hakim harus cerdas dalam menginventaris persoalan yang diajukan dan mengidentifikasikan persolan tersebut untuk  kemudian mengambil intisari pokok persoalan yang selanjutnya digali lebih dalam melalui alat-alat bukti yang ada. Apabila segala sesuatunya sudah diketahui majelis hakim, maka tidak ada cara lain kecuali majelis hakim harus secepatnya mangambil putusan untuk dibacakan dimuka persidangan yang terbuka untuk umum.
Biaya ringan yang dimaksud adalah harus diperhitungkan secara logis, rinci dan transparan, serta menghilangkan biaya-biaya lain di luar kepentingan para pihak dalam berperkara. Sebab tingginya biaya perkara menyebabkan para pencari keadilan bersikap apriori terhadap keberadaan pengadilan.
5)        Asas Non Ekstra Yudisial
Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD RI Tahun 1945. Sehingga setiap orang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud akan dipidana.
6)        Asas Legalitas
Peradilan agama mengadili menurut hokum dengan tidak membeda-bedakan orang. Asas ini diatur dalam pasal 3 (2), pasal 5 (2), pasl 6 (1) UU No.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman jo. Pasal 2 UU No.3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama.
Pada asasnya Pengadilan Agama mengadili menurut hukum agama Islam dengan tidak membeda-bedakan orang, sehingga hak asasi yang berkenaan dengan persamaan hak dan derajat setiap orang di muka persidangan Pengadilan Agama tidak terabaikan.
Asas legalitas dapat dimaknai sebagai hak perlindungan hukum dan sekaligus sebagai hak persamaan hokum. Untuk itu semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan harus berdasar atas hokum, mulai dari tindakan pemanggilan, penyitan, pemeriksaan di persidangan, putusan yang dijatuhkan dan eksekusi putusan, semuanya harus berdasar atas hukum. Tidak boleh menurut atau atas dasar selera hakim, tapi harus menurut kehendak dan kemauan hukum.

A.2.   Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama
1)         Asas Personalitas Ke-islaman
Yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepada kekuasaan peradilan agama, hanya mereka yang mengaku dirinya beragama Islam. Asas personalitas ke-islaman diatur dalam UU nomor 3 Tahun 2006 Tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1989 Tentang peradilan agama Pasal 2 Penjelasan Umum alenia ketiga dan Pasal 49 terbatas pada perkara-perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama.
Ketentuan yang melekat pada UU No. 3 Tahun 2006 Tentang asas personalitas ke-islaman adalah :
a)    Para pihak yang bersengketa harus sama-sama beragama Islam.
b)    Perkara perdata yang disengketakan mengenai perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shodaqoh, dan ekonomi syari’ah.
c)    Hubungan hukum yang melandasi berdsarkan hukum islam, oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam.
Khusus mengenai perkara perceraian, yang digunakan sebagai ukuran menentukan berwenang tidaknya Pengadila Agama adalah hukum yang berlaku pada waktu pernikahan dilangsungkan. Sehingga apabila seseorang melangsungkan perkawinan secara Islam, apabila terjadi sengketa perkawinan, perkaranya tetap menjadi kewenangan absolute peradilan agama, walaupun salah satu pihak tidak beragam Islam lagi (murtad), baik dari pihak suami atau isteri, tidak dapat menggugurkan asas personalitas ke-Islaman yang melekat pada saat perkawinan tersebut dilangsungkan, artinya, setiap penyelesaian sengketa perceraian ditentukan berdasar hubungan hukum pada saat perkawinan berlangsung, bukan berdasar agama yang dianut pada saat terjadinya sengketa.
Letak asas personalitas ke-Islaman berpatokan pada saat terjadinya hubungan hukum, artinya patokan menentukan ke-Islaman seseorang didasarkan pada factor formil tanpa mempersoalkan kualitas ke-Islaman yang bersangkutan. Jika seseorang mengaku beragama Islam, pada dirinya sudah melekat asas personalitas ke-Islaman. Faktanya dapat ditemukan dari KTP, sensus kependudukan dan surat keterangan lain. Sedangkan mengenai patokan asas personalitas ke-Islaman berdasar saat terjadinya hubungan hukum, ditentukan oleh dua syarat : Pertama, pada saat terjadinya hubungan hukum, kedua pihak sama-sama beragama Islam, dan Kedua, hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam, oleh karena itu cara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam.
2)        Asas Ishlah (Upaya perdamaian)
Upaya perdamaian diatur dalam Pasal 39 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo. Pasal 31 PP No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tentang perkawinan jo. Pasal 65 dan Pasal 82 (1 dan 2) UU No. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. Pasal 115 KHI, jo. Pasal 16 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
Islam menyuruh untuk menyelesaikan setiapperselisihan dengan melalui pendekatan “Ishlah”. Karena itu, tepat bagi para hakim peradilan agama untuk menjalankn fungsi “mendamaikan”, sebab bagaimanapun adilnya suatu putusan, pasti lebih cantik dan lebih adil hasil putusan itu berupa perdamaian.
3)        Asas Terbuka Untuk Umum
Asas terbuka untuk umum diatur dalam pasal 59 (1) UU No.7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradila Agama jo. Pasal 19 (3 dan 4) UU No. 4 Tahun 2004.
Sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama adalah terbuka untuk umum, kecuali Undang-Undang menentukan lain atau jika hakim dengan alasan penting yang dicatat dalam berita acara siding memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagianakan dilakukan dengan siding tertutup. Adapun pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama yang harus dilakukan dengan siding tertutup adalah berkenaan dengan pemeriksaan permohonan cerai talak dan atau cerai gugat (pasal 68 (2) UU No. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agama).
4)        Asas Equality
Setiap orang yang berperkara dimuka sidang pengadilan adalah sama hak dan kedudukannya, sehingga tidak ada perbedaan yang bersifat “diskriminatif” baik dalam diskriminasi normative maupun diskriminasi kategoris. Adapun patokan yang fundamental dalam upaya menerapkan asas “equality” pada setiap penyelesaian perkara dipersidangan adalah :
a.           Persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan persidangan pengadilan atau “equal before the law”.
b.           Hak perlindungan yang sama oleh hukum atau “equal protection on the law”
c.            Mendapat hak perlakuan yang sama di bawah hukum atau “equal justice under the law”.
5)        Asas “Aktif” memberi bantuan
Terlepas dari perkembangan praktik yang cenderung mengarah pada proses pemeriksaan dengan surat atau tertulis, hukum acara perdata yang diatur dalam HIR dan RBg sebagai hukum acara yang berlaku untuk lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Agama sebagaimana yang tertuang pada Pasal 54 UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama.
6)        Asas Upaya Hukum Banding
Terhadap putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada Pengadilan Tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan, kecuali Undang-undang menentukan lain.
7)        Asas Upaya Hukum Kasasi
Terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh para pihak yang bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain.
8)         Asas Upaya Hukum Peninjauan Kembali
Terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung, apabila terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam undang-undang. Dan terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali.
9)        Asas Pertimbangan Hukum (Racio Decidendi)
Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut, memuat pula paal tertentu dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.


Senin, 04 Oktober 2010

AZAS -AZAS KEWARGANEGARAAN ( CIVIC PRINSIPLE )

Kewarganegaraan adalah segala hal yang berhubungan dengan warga negara. Adapun asas-asas kewarganegaraan universal meliputi ius sanguinis, ius soli, dan campuran. Pengertian asas-asas tersebut adalah sebagai berikut :
  • Ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara tempat kelahiran.
  • Ius soli (law of the soil) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran.
  • Kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang.
  • Kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam undang-undang.
Civic is every thing related to citizen. As for universal civic principles cover ius sanguinis, ius soli, and mixture. Congeniality of the grounds shall be as follows :
  • Ius sanguinis (law of the blood) is principle determining, someone civic pursuant to clan, non pursuant to birth place state.
  • Ius soli (law of the soil) is principle determining someone civic pursuant to birth place state.
  • Single civic is principle determining one civic for every people.
  • Limited double civic is princile determining double civic to children pursuant to which is arranged in code.

Kamis, 30 September 2010

INTERNET SEHAT BIKIN OTAK BERSEMANGAT

Hallo ..apa kabar semuanya ???? baik-baik ..tentunya....ya..saya doakan semua teman-temanku dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan Yang maha Esa.
Internet di zaman sekarang merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam mencari informasi yang cepat dan akurat. ya .. betul ngak ????
aku kalau ada keperluan dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahku atau lainya,,selalu rujukannya ke internet...karna internet adalah media yang sangat simpel dan mudah untuk mencari informasi yang kita butuhkan.
Kita tinggal tulis Judul atau tema yang kita butuhkan lalu kita klik...nah ..langsung deh muncul informasinya.
Namun kita juga harus berhati-hati kawan ..?  sebab di dalam internet banyak juga situs-situs yang membikin otak kita jadi ngeres ? seperti situs mengandung :
* Pornografi
* Judi
* Phising/Malware
* SARA
wah itu bahaya sekali kalau kita buka....bisa-bisa membuat moral kita jadi bejat...maka dari itu mari kita hindari situs-situs kayak gitu. agar pikiran kita sehat dan bersemangat o.k.
Teman-teman jangan lupa membuka blog yang bagus, positif ya pokoknya blog yang tidak membikin moral kita rusak atau membikin pikiran kita jadi ngeres ...betul ngak kawan.
Mari kita juga bikin blog sendiri, dan kita isi dengan hal-hal yang positif..yang nantinya juga menambah blog-blog yang positif pula...jadi blog positif harus mendominasi dari pada blog yang negatif....betul ngak kawan.
Mari kita berantas blog-blog negatif dengan membikin blog yang positif.... dan kita dukung selalu untuk berinternet sehat....agar bangsa kita Indonesia mempunyai generasi yang sehat dan berkualiatas dan menjadi penerus bangsa yang tangguh dan maju. Mari kita bangun indonesia dengan cara kita berinternet sehat. Positif Thinking, dan tentunya selalu bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa.

PENERIMAAN CPNS 2010

Daftar Penerimaan CPNS 2010 Oktober :

Penerimaan CPNS LKPP 2010 (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah). Pengumuan CPNS LKKP ini sendiri pendaftaran online akan berlangsung mulaia 23 September 2010 pukul 15.00 WIB s.d. tanggal 7 Oktober 2010 langsung saja kunjungi http://www.lkpp.go.id

Pengumuman Penerimaan CPNS 2010 BAKORKAMLA Badan Koordinasi Keamanan Laut Republik Indonesia. Berkasa lamaran diterima paling lambat 8 Oktobr 2010. Penempatan CPNS di di MRCC (Maritime Rescue Coordinating Center), RCC (Rescue Coordinating Center) dan GS (Ground Station) selanjutnya kunjungi http://www.bakorkamla.go.id

Pengumuman CPNS Badan SAR Nasional 2010. Pengumuman penerimaan CPNS dari Badan SAR Nasional yang merupakan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK). Lonwongan dibuka untuk memberikan kesempatan bagi Warga Negara Indonesia pria dan wanita yang memiliki kualifikasi pendidikan S-1, D-III, dan SMK/SMU. selanjutnya kunjungi hhttp://www.basarnas.go.id/

Penerimaan CPNS Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) 2010. Jika anda tertarik penerimaan berkas lamaran sampai tanggal 2 Oktober 2010 pukul 16.00 dalam kesempatakan kali ini Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) membuka kesempatan kepada putra-putri Indonesia terbaik lulusan Diploma III (D-III) dan Sarjana Strata 1 (S-1) . Kunjungi hhttp://www.ppatk.go.id/

Pengumuman penerimaan CPNS Kemdiknas 2010. Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010 kembali membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kemdiknas. Pendaftaran CPNS Kemdiknas akan dibuka mulai Pendaftaran 11 sd 15 Oktober 2010. makanya buruan jangan sampai ketinggalan penerimaan CPNS 2010 Kemdiknas.Selanjutnya silahkan kunjungi www.kemdiknas.go.id.

Pengumuman Penerimaan Hakim dan CPNS di lingkungan Pengadilan Agama dan Umum. Untuk selengkapnya dapat lihat informasi di link ini .http://badilag.net

Demikian beberapa informasi penerimaan CPNS yang berlangsung bulan oktober sampai november 2010, mudah-mudahan bermanfaat.

Minggu, 19 September 2010

MATERI KULIAH HUKUM ISLAM

bagi rekan-rekan mahasiswa yang menginginkan materi kuliah hukum islam bisa downloud di bawah ini. materi ini saya dapatkan dari internet juga...jadi supaya bagi-bagi ilmu, siapa saja boleh mendownloudnya .semoga bermanfaat bagi kita semua. amin....
  1. hukum islam 1
  2. hukum islam 2
  3. hukum islam 3
  4. hukum islam 4
  5. hukum islam 5
  6. waris 1
  7. waris 2
  8. waris 3
  9. uu pengadilan agama
  10. KHI
  11. uu-lingkungan
  12. uu-zakat
  13. uu-wakaf
  14. uu-perkawinan

Rabu, 08 September 2010

LOWONGAN DOSEN DIV BIDAN

Dibutuhkan segera Dosen dengan kualifikasi sebagai berikut :
  1. Lulusan DIV Bidan
  2. IPK Minimal 3.00
  3. Berdomisili di Jombang dan sekitarnya
  4. Mampu bekerjasama dengan team
  5. Mempunyai semangat & loyalitas tinggi
Surat lamaran bisa dikirim lewat Pos atau datang langsung ke Kampus :

STIKES BAHRUL 'ULUM
Jl. KH. Wahab Hasbullah IV Tambakberas Jombang
Informasi : Hub. Ibu Laila 085259729924

Rabu, 25 Agustus 2010

MEMBUAT GAMBAR MENJADI LINK

  • Sediakanlah gambar. Bisa berbentuk jpg, gif, png, dsb. Kemudian upload ke hostingan pribadi . Bisa di photobucket, image shack, atau google pages. .upload atau browsing trus Copy alamat/url gambar itu![direct link] Misalnya, gambar saya dengan file name http://i267.photobucket.com/albums/ii283/hokageaddict/wordpress.gif
  • Buka aplikasi teks editor. Misalnya Notepad yang ada pada XP. Start-All Programs-Accesories-Nodepad. Kalo gak nemu, klik aja Start-Run-ketik NOTEPAD-Tekan Enter.
  • Ketik atau copy-paste kode berikut ini di notepad:

    href=”http://www.facebook.com/loadingfoyage/” target=”_blank” title=”blog saya”>”test
  • Simpan dengan bentuk file *.htm. Misalnya gambarku.htm.
  • Eksekusi aja file htm yang baru kita buat tadi, bisa dengan Mozilla Firefox, Internet Explorer, atau browser apa aja lah…Praktisnya, double klik aja file itu. Maka hasilnya akan seperti gambar sama di bawah, di samping kanan anda:

Keterangan:

  • href | adalah url/link tujuan. Silakan ubah sesuai dengan url/alamat web yang hendak Anda tuju!
  • target=”_blank” | artinya, jika gambar di klik, halaman yang akan terbuka tidak akan menimpa halaman yang sedang terbuka saat ini, tapi akan mengarah ke tab baru (new tab/new windows).
  • title=”judul” | saat mouse (cursor) menyorot/fokus pada gambar, akan keluar keterangan singkat yang Anda isi pada tag title ini.
  • alt=”alt text” | teks alternatif bila gambar yang dimaksud belum/tidak muncul
  • border=”0″ | bila tidak menggunakan tag ini, pada gambar akan muncul garis pinggir (border)


Minggu, 22 Agustus 2010

GAMBAR ANEH

Aku dapat gambar diatas dari suatu blog, coba bedakan antara gambar kiri dan kanan, bagaimana ekpressi keduanya
Terus coba kamu mudur 1,5  meter atau 2 meter coba perhatikan perubahan ekpresi dari 2 wajah diatas. berubah kan....???
coba beri coment di bawah ini..atas hasil pengamatan kamu .....

Jumat, 20 Agustus 2010

TUNTUNAN MENYANDARKAN BULAT KEPADA RAHMAT ALLAH

من علامات الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

  1. Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan/ dosa.
 kalimat : Laa ilaaha illallaah. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah.
Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedang syariah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia Allah.
Kalimat : Laa haula walaa quwwata illaa billaahi. Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya semata-mata.
Firman Allah :
قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون   يونس  59
"katakanlah : hanya karena merasakan karunia rahmat Allahlah kamu boleh bergembira, dan itulah yang lebih baik (berguna) bagi mereka daripada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri ( Yunus 59)

Sedangkan bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada karunia rahmat Allah yang memberi taufiq hidayat kepadanya yang akhirnya ia ujub, sombong, merasa sempurna sendiri, sebagaima yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada Adam.
Sedangkan kita harus bertauladan pada nabi Sulaiman as. ketika ia menerima nikmat karunia Allah, ketika mendapat istana ratu Bulqis.
Firman Allah :
هذا من فضل ربي ليبلوني ااشكر ام اكفر    النمل 4
" ini semata -mata dari karunia Tuhanku, untuk menguji padaku, apakah aku bersyyukur (terimakasih) atau kufur ( lupa pada Allah).....( An-Naml 40)

DZIKIR JAHAR (keras)

Dzikir Jahar (Keras)

Hingga kini, masih banyak orang yang under estimate, merasa tidak mempercayai dengan dalil suudzon dan syak wasangka, apakah benar ada yang dinamakan dzikir jahar atau dzikir keras. Kebanyakan dari mereka, mengira bahwa yang dinamakan dzikir keras itu sesuatu yang tidak ada riwayat dari Rasulnya. Benarkah?

Sebagai ilustrasi, sebagaimana orang bijak pernah berkata, bahwa manusia akan dikumpulkan dengan orang yang disukainya. Jika ia mencintai musik, maka ia akan berkumpul dengan para pecinta musik. Jika ia mencintai hobi motor cross misalnya, maka ia akan berkumpul dengan mereka yang mencitai hobi yang sama. Tidak perduli dengan suara bising dan dentuman musik yang menjadi-jadi. Bagi mereka yang penting adalah mencari kenikmatan.

Ya, begitulah bahwa manusia akan dikumpulkan bersama dengan orang yang memiliki hobi dan minat yang sama. Demikian juga dengan dzikir, atau bagi mereka yang menyukai dzikir. Timbulnya pertanyaan, benarkah ada dzikir jahar, ialah keluar dari mereka yang memang belum mencintai apa itu dzikir jahar. Padahal, Allah sendiri adalah firman-Nya menyatakan bahwa orang yang beriman yang memiliki hati suci, jika mendengar dzikir akan tersentuh dan gemetar hatinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” (QS. Al Anfal ayat 2).

Dalam ayat ini, Allah memberi isyarat bahwa mereka yang beriman tidak akan merasa resah tetapi akan tersentuh hati dan jiwanya jika mendengarkan dzikir. Dari ayat ini yang menjadi titik tekan adalah dalam kata dzukiro, yang berarti dzikir itu dibacakan. Berarti orang yang beriman itu mendengar bacaan dzikir, lalu mereka bergetar hatinya. Kemudian, kita bisa menyimpulkan bahwa apa pun yang bisa didengar atau terdengar itu adalah suara yang dinyaringkan atau dikeraskan. Berarti dzikir dalam ayat tersebut adalah dzikir jahar atau dzikir yang dinyaringkan. Untuk lebih jelasnya, maka kita uraikan satu per satu ayat Al Quran dan Hadits yang menerangkan tentang dzikir jahar.

HUKUM DZIKIR KERAS (JAHAR) DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS
HUKUM DZIKIR JAHAR DALAM AQUR’AN

- 1. Q.S. AL-‘AROF AYAT 204 :

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat .”

Penjelasan ayat ini bukan menunjukan dzikir dalam hati tapi dzikir yang terdengar atau dzikir keras. Namun, Ayat di atas seakan bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits yang lain tentang anjuran untuk berdzikir dalam hati seperti Q.S.Al-‘Arof ayat 205: “Sebutlah nama Allah di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tidak dengan suara yang keras dari pagi sampai petang, Dan janganlah dirimu menjadi golongan yang lupa (lalai).”

Sebenarnya Ayat 205 ini tidaklah bertentangan dengan ayat 204 yang menunjukan akan diperintahkannya dzikir jahar. Dan ayat 205 ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang dzikir keras karena akan bertentangan dengan dzikir yang telah umum yang biasa dibaca dengan suara keras, seperti takbiran, adzan, membaca talbiyah ketika pelaksanakan haji, membaca al-qur’an dengan dikeraskan atau dilagukan, membaca sholawat dangan suara keras dan lain-lain. Hanya saja, Q.S Al’Arof ayat 205 ini hanya menjelaskan tentang dzikir yang tidak memakai gerak lidah yaitu dzikir dalam hati atau khofi. Jadi penjelasan Ayat 205 ini menunjukan, bagaimanapun bentuknya dzikir jika dibaca dalam hati pasti tidak akan mengeluarkan suara karena dzikirnya sudah menggunakan hati, bahkan sudah tidak menggunakan gerak lidah.

Kesimpulan dari dua ayat itu, Allah menunjukan adanya perintah dibolehkannya berdzikir dengan jahar (keras) maupun dzikir dalam hati (khofi) yang tidak memakai gerak lidah.

- 2. Q.S.AL-BAQOROH AYAT 200 :

“Apabila engkau telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menywebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau bahkan berdzikirlah lebih (nyaring dan banyak) daripada itu.”

Menurut Ibnu Katsir, latar belakang turunnya ayat ini ialah kebiasaan bangsa Arab, baik suku quraisy maupun lainnya pada musim haji mereka biasanya berkumpul di Mudzalifah setelah wukuf di Arafah. Disitu mereka membanggakan kebesaran nenek moyang mereka dengan cara menyebut-nyebut kebesaran nenek moyang mereka itu dalam pidato mereka. Ketika telah memeluk agama Islam, Nabi memerintahkan mereka hadir di Arafah untuk wukuf kemudian menuju mudzdalifah. Setelah mabit di mudzdalifah mereka diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu dengan tidak menunjukan perbedaan diantara mereka (dengan cara menyebut kebesaran nenek moyang) seperti yang mereka lakukan pada masa pra Islam.

Berbeda dengan Ibnu Katsir, yaitu Mahmud Hijazi menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, bila kamu selesai mengerjakan haji maka berdzikirlah kepada Tuhanmu dengan baik (dengan cara menyebut-nyebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu sewaktu kamu jahiliyah atau sebutlah nama Allah itu lebih keras daripada kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu itu. Begitu pun penafsiran Ibnu Abbas, seperti terdapat dalam kitab Tanwir al Miqbas ketika menafsirkan kata aw asyadda dzikro yang berarti menyebut Allah dengan mengatakan “Ya Abba” seperti menyebut nenek moyang “Ya Allah”.

Dua pendapat mufasir di atas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa menyebut nama Allah dalam pengertian dzikrullah dianjurkan setelah menunaikan ibadah haji,. Dzikrullah tersebut dikerjakan dengan suara keras, bahkan boleh dengan suara yang lebih keras daripada suara jahiliyah tatkala mereka menyebut nama nenek moyang mereka ketika berhaji.

- 3. Q.S. AL-BAQOROH AYAT 114 :

“ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalangi-halangi menyebut nama Allah di dalam mesjid-mesjid-Nya ..”

- 4. Q.S. AN-NUR AYAT 36 :

“ Didalam semua rumah Allah diijinkan meninggikan (mengagungkan) suara untuk berdzikir dengan menyebut nama-Nya dalam mensucikan-Nya sepanjang pagi dan petang.”

- 5. Dan lain-lain

HUKUM DZIKIR JAHAR MENURUT HADITS ROSUL

HADITS KE SATU

Dalam Kitab Bukhori jilid 1:

Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas ra., berkata: “Inna rof’ash shauti bidzdzikri hiina yanshorifunnaasu minal maktuubati kaana ‘ala ‘ahdi Rosuulillaahi sholallaahu alaihi wasallam kuntu ‘alamu idzaanshorrofuu bidzaalika sami’tuhu.” Artinya :“Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir setelah manusia-manusia selesai dari sholat fardlu yang lima waktu benar-benar terjadi pada zaman Nabi Saw. Saya (ibnu Abbas) mengetahui para sahabat melakukan hal itu karena saya mendengarnya .”

Selanjutnya dalam hadits :“Suara yang keras dalam berdzikir bersama-sama pada waktu tertentu atau ba’da waktu sholat fardhu, akan berbekas dalam menyingkap hijab, menghasilkan nur dzikir” (HR. Bukhari).

- HADITS KE DUA

Dari Abu Khurairah ra, katanya Rasulullah bersabda: “Allah berfirman; ‘Aku berada di dalam sangkaan hamba-Ku tentang diri-Ku, Aku menyertainya ketika dia menyebut-Ku, jika dia menyebut-Ku kepada dirinya, maka Aku menyebutnya kepda diri-Ku. Maka jika menyebut-tu di depan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik daripada mereka” (HR. Bukhari). Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut ‘di depan orang banyak’, berarti dzikir tersebut dilakukan secara jahar.

- HADITS KE TIGA

Diriwayatkan di dalam Al Mustadrak dan dianggap saheh, dari Jabir ra. berkata: “Rasulullah keluar menjumpai kami dan bersabda: ‘Wahai saudara-saudara, Allah memiliki malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis-majlis dzikir di dunia. Maka penuhilah taman-taman syurga’. Mereka bertanya:’Dimanakah taman-taman syurga itu?’. Rasulullah menjawab: ‘Majlis-majlis dzikir.’ Kunjungilah dan hiburlah diri dengan dzikir kepada Allah” (HR. Al Badzar dan Al Hakim).

Penjelasan hadits ini, bahwa dalam kalimat ‘malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis dzikir di dunia’ maksudnya berarti dzikir dalam hal ini adalah dzikir jahar yang dilakukan manusia. Karena malaikat hanya mengetahui dzikir jahar dan tidak mampu mengetahui dzikir khofi. Hal ini sebagaimana sabda Rasul: “Adapun dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat yakni dzikir khofi atau dzikir dalam hati yakni dzikir yang memiliki keutamaan 70x lipat dari dzikir yang diucapkan” (HR. Imam Baihaqi dalam Kitab Tanwirul Qulub hal.509).

- HADITS KE EMPAT

Hadits yang dishohehkan oleh An Nasai dan Ibdu Majjah dari As Sa’ib dari Rasululah SAW, beliau bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘Perintahkanlah kepada sahabat-sahabatmu untuk mengeraskan suaranya di dalam takbir”(HR. Imam Ahmad Abu Daud At Tirmidzi).

Penjelasan hadits ini, bahwa sangat jelas tidak dilarangnya dzikir keras tetapi dianjurkan untuk melakukan dzikir jahar.

- HADITS KE LIMA

Didalam kitab Sya’bil Iman dari Abil Jauza’ ra. berkata :“Nabi Saw, bersabda, “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” (H.R.Baihaqi)

Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut “orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” Hadits ini menunjukan dzikir jahar karena dengan dzikir jahar (terdengar) itulah orang munafik akhirnya menyebutnya ria .

- HADIITS KE ENAM

Juga dalam kitab Sya’bil Iman yang di shohehkan oleh Al-Hakim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., berkata :“Nabi Saw, bersabda,” Perbanyaklah dzikir kepada Allah kendati kalian dikatakan gila”. (H.R.Al-Hakim danAl-Baihaqi)

- HADITS KE TUJUH,

Dari Jabir bin Abdullahra, berkata :“Ada seorang yang mengeraskan suaranya dalam berdzikir, maka seorang berkata, “ semestinya dia merendahkan suaranya.” Rosulullah bersabda,” Biarkanlah dia,sebab sesungguhnya dia adalah lebih baik.“ (Al-Baihaqi). Dari Sa’id bin Aslam ra., katanya Ibnu Adra’ berkata, “ Aku menyertai Nabi Saw. Pada suatu malam, lalu melewati seseorang di mesjid yang mengeraskan suaranya, lalu aku berkata, “ Wahai Rosulullah, tidaklah ia termasuk orang ria ? “ Beliau menjawab, “ Tidak,tetapi dia pengeluh,” (H.R.Baihaqi).

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG DZIKIR JAHAR

Imam An-Nawawi berkata : “Bahwa bacaan dzikir sir (samar) lebih utama apabila takut ria, atau khawatir mengganggu orang yang sedang sholat atau tidur. Sedangkan yang jahar (dzikir keras) lebih baik apabila tidak ada kekhawatiran tentang hal ini, mengingat amalan di dalamnya lebih banyak manfaatnya, karena ia dapat membangkitkan kalbu orang yang membaca atau yang berdzikir, ia mengumpulkan semangat untuk berfikir, mengalahkan pendengaran kepadanya, mengusir tidur, dan menambah kegiatan” (dalam Kitab Haqiqot Al-Tawwasulu wa Al-Wasilat Al-Adlow’il kitabi wa As-Sunnah).

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih didalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang kepada Allah yang telah menjadikan hati jadi keras bagaikan batu, penghalangnya yaitu seperti sipat malas, sombong, ria, iri dengki dan sebagainya)

Imam Al-Ghozali r.a. mengatakan: “Sunnat dzikir keras (jahar) diberjemaahkan di mesjid karena dengan banyak suara keras akan memudahkan cepat hancurnya hati yang keras bagaikan batu, seperti satu batu dipukul oleh orang banyak maka akan cepat hancur”.

KENAPA MESTI DZIKIR KERAS?

Ulama ahli ma’rifat mengatakan bahwa untuk mencapai ma’rifat kepada Allah bisa diperoleh dengan kebeningan hati. Sedangkan kebeningan hati itu bisa dicapai dengan suatu thoriqoh (cara), diantaranya banyak berdzikir kepada Allah. Jadi, ma’rifat tidak akan bisa diperoleh jika hati kita busuk penuh dengan kesombongan, ria, takabur, iri dengki, dendam, pemarah, malas beribadah dan lain-lain. Oleh sebab itu dzikir diantara salah satu cara (thiriqoh) untuk membersihkan hati.

Sebab, manusia sering menyalahgunakan fitrah yang diberikan Tuhan, sehingga hati mereka menjadi keras. Sifat-sifat yang tidak terpuji tersebut, mendorong manusia memiliki hati yang keras melebihi batu. Hal tersebut sebagaimana kalimat yang tercantum dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 74: “tsumma qosat quluubukum minba’di dzaalika fahiya kal hijaaroti aw asyaddu qoswatun”, artinya “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu,bahkan lebih keras lagi”. Dari ayat tersebut hati manusia yang membangkang terhadap Allah menjadikan hatinya keras bagaikan batu bahkan lebih keras daripada batu.

Maka, jalan keluarnya untuk melembutkan hati yang telah keras bagaikan batu sehingga kembali tunduk kepada Allah, sebagaimana Ulama ahli ma’rifat mengatakan penafsirkan ayat tersebut, sebagaimana dalam kitab miftahu Ash-Sshudur karya Sulthon Awliya Assayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “fakamaa annal hajaro laa yankasiru illa biquwwatin dlorbil muawwil fakadzaalikal qolbu laayankasiru illa biquwwati ”, artinya “sebagaimana batu tidak pecah kecuali bila dipukul dengan tenaga penuh pukulan palunya, demikian hati yang membatu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan kuatnya suara dzikir. “liannadz dzikro laa yu’tsiru fiijam’i tsanaati qolbi shohibihi illa biquwwatin”, artinya “ Demikian pula dzikir tak akan memberi dampak dalam menghimpun fokus hati pendzikirnya yang terpecah pada Allah kecuali dengan suara keras”.

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih di dalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang yang akan menghalangi kita dekat kepada Allah, seperti sifat-sifat jelek manusia: iri, dengki, sombong, takabur,dll yang disumberkan oleh hati yang keras).

CARA BERDZIKIR DENGAN KERAS YANG DIAJARKAN ROSUL

Dalam hadits shohihnya, dari Yusuf Al-Kaorani : “Sesungguhnya Sayyidina ‘Ali r.a. telah bertanya pada Nabi Saw. : Wahai Rosulullah, tunjukkanlah kepadaku macam-macam thoriqot (jalan) yang paling dekat menuju Allah dan yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama di sisi Allah, maka Nabi Saw menjawab: wajiblah atas kamu mendawamkan dzikkrullah: Sayyidina ‘Ali r.a bertanya lagi: Bagaimana cara berdzikirnya ya Rosulallah? Maka Nabi menjawab: pejamkan kedua matamu, dan dengarkan (ucapan) dariku tiga kali, kemudian ucapkan olehmu tiga kali, dan aku akan mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali sambil memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sedangkan Sayyidina ‘Ali r.a mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali, sedangkan Nabi Saw memdengarkannya”. (Hadits dengan sanad sahih, dalam kitab Jami’ul Ushul Auliya)

Dalam kitab Tanwirul Quluub dijelaskan cara gerakan dzikir agar terjaga dari datangnya Syetan, merujuk Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al’Arof ayat 17: “Demi Allah (kami Syetan) akan datang kepada manusia melalui arah depan, arah belakang, arah kanan dan arah kiri”. Ayat ini menunjukan arah datangnya syetan untuk menggoda manusia agar menjadi ingkar terhadap Allah. Jelas, sasarannya manusia melalui empat arah; 1. Depan 2.Belakang 3.Kanan 4.Kiri.Maka, dzikirnya pun harus menutup empat arah. Dalam kitab Tanwirul Qulub: ucapkan kalimat “LAA” dengan diarahkan dari bawah pusat tarik sampai otak hal ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah depan dan belakang. Adapun ditarik kalimat itu ke otak karena syetan mengganggu otak/pikiran kita sehingga banyak pikiran kotor atau selalu suuddzon. Dan “ILAA” dengan diarahkan ke susu kanan atas, dan kalimat “HA” diarahkan ke arah susu kanan bagian bawah adapun ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah kanan. Dan “ILLALLAH” diarahkan ke susu kiri yang bagian atas serta bawahnya, hal ini untuk menutup pintu syetan yang datangnya dari arah kiri, namun lapadz jalalah yaitu lapadz “ALLAAH”nya diarahkan dengan agak keras ke susu kiri bagian bawah sekitar dua jari, karena disanalah letaknya jantung atau hati (keras bagaikan batu) sebagaimana pendapat Imam Al-ghozali.

Syarat berdzikir menurut para Ulama Tasawuf:

1. Dengan berwudlu sempurna

2. Dengan suara kuat/ keras

3. Dengan pukulan yang tepat ke hati sanubari

MANA YANG PALING UTAMA, DZIKIR KERAS (JAHAR) ATAU DZIKIR HATI (KHOFI)?

Dalam kitab ulfatu mutabarikin dan kitab makanatu Adz-dzikri bahwasanya Rosul pernah bersabda: “sebaik-baik dzikir adalah dalam hati”. Dalam kitab tersebut dijelaskan hal itu bagi orang yang telah mencapai kelembutan bersama Allah, hati bersih dari penyakit, hati yang sudah lembut. Sedangkan dzikir keras itu lebih utama bagi orang yang hatinya keras bagaikan batu, sehingga sulit untuk tunduk pada perintah Allah karena sudah dikuasai oleh nafsunya.

Dalam kitab Miftahu Ash-Shudur karya Sulthon Auliya As-Sayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “ Sulthon Awliya As-Sayyid Syekh Abu A-Mawahib Asy-Syadzili r.a. berkata: “Para ulama toriqoh berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama, apakah dzikir sir (hati) atau dzikir jahar (keras), menurut pendapat saya bahwa dzikir jahar lebih utama bagi pendzikir tingkat pemula (bidayah) yang memang hanya dapat meraih dampak dzikir dengan suara keras dan bahwa dzikir sir (pelan) lebih utama bagi pendzikir tingkat akhir (nihayah) yang telah meraih Al-Jam’iyyah (keteguhan hati kepada Allah)” .

Imam Bukhori, dalam kitab Sahihnya bab dzikir setelah salat fardlu, berkata: “ Ishaq ibnu Nasr memberitahu kami, dia berkata’Amru memberitahu saya bahwa Abu Ma’bad, pelayan Ibnu Abbas, semoga Allah meridloi keduanya, memberitahu Ibnu Abbas bahwa “Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jama’ah selesai dan shalat fardlu sudah biasa dilakukan pada masa Nabi Muhammad. Ibnu Abbas berkata: “Aku tahu hal itu, saat mereka selesai shalat karena aku mendengarnya”. Sayyid Ahmad Qusyayi. Q.s., berkata: ”inilah dalil keutamaan dzikir keras (jahar) yang didengar orang lain, dengan demikian ia membuat orang lain berdzikir kepada Allah dengan dzikirnya kepada Allah“.

DZIKIR KERAS MERESAHKAN?

Dzikir keras tidak akan meresahkan atau mengganggu orang yang hatinya penuh dengan cinta kepada Allah. Dengan terdengarnya dzikir menjadi magnet (daya tarik) yang kuat bagi orang yang beriman, bahkan menjadi kenikmatan tersendiri. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an QS.Al-Anfal ayat 2 :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” .

ALLAH TIDAK TULI

Ada anekdot dari seorang Ulama Tasawuf pengamal thoriqoh: suatu hari ada dialog antara mahasiswi dan ulama tasawuf. Mahasiswi bertanya: “Pak Kiai, kenapa dzikir mesti keras (jahar) padahal Allah itu tidak tuli?”. Ulama Tasawuf menjawab dengan membalikan pertanyaan: “yang bisa kena sifat tuli itu yang memiliki telinga atau tidak?”. Mahasiswi menjawab: “iya yang punya telinga”. Ulama Tasawuf kembali bertanya: “Kalau Allah punya telinga tidak?”. Mahasiswi menjawab: “tidak punya”. Ulama tasawuf kembali bertanya lagi: “apakah dengan suara keras makhluk akan merusak pendengaran Allah?”. Mahasiswi menjawab: “tidak Pak Kiai”.

Selanjutnya Ulama Tasawuf mengatakan: “oleh sebab itu istighfarlah dan bersyahadatlah dengan baik, bagaimanapun Allah tidak akan tuli dan tidak akan rusak pendengaran-Nya oleh suara kerasnya makhluk. Bagi-Nya suara keras maupun pelan terdengar oleh Allah sama. Hanya saja, hati manusia yang tuli akan perintah Allah. Jadi, dzikir keras bukan untuk Allah dan bukan ingin didengar oleh Allah karena Allah sudah tahu. Tapi tujuan dzikir keras itu diarahkan untuk hati yang tuli kepada Allah yang keras bagaikan batu sedangkan kita tahu batu itu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan yang kuat, begitupun hati yang keras bagaikan batu tidak akan hancur kecuali dengan suara pukulan dzikir yang kuat. Jadi, Allah tidak butuh akan dzikir kita, sebaliknya kitalah yang butuh akan dzikir kepada Allah supaya hati menjadi lembut, bersih dan ma’rifat kepada Allah.

Wallahu’alam bishowab. (dai kembar)