Jumat, 11 Mei 2012

RENDAH DIRI SUATU AKHLAQ MULIA

Alhamdulillah Segala puji milik yang Maha Kuasa atas segala karuniaNya yang telah diberikan kepada kami sehingga kami telah menjalankan aktifitas sehari-hari. Amin..
Sholawat dan salam kami haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai hamba yang menempuh sebuah jalan menuju kepada Allah (Salik). Hal-hal yang berhubungan dengan adab harus diperhatikan antara lain adalah tawadhu’. Dikatakan Tawadhu’ adalah anugrah Allah yang tidak pernah diiri dengki orang dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belaskasihan. Kemuliaan terletak pada sikap tawadhu’ dan orang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah mendapatkannya.
Abu Yazid ditanya, Bisahkah seseorang mencapai sifat Tawadhu’?
Dijawabnya, jika ia tidak menisbatkan dirinya pada sesuatu maqom dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun diantara umat manusia didunia ini yang lebih buruk dari dirinya.
Tawadhu’ atau Rendahdiri itu ada didalam Hati, dan ketika salah seorang sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap rendahhati dalam prilaku lahiriahnya saja, dengan mata yang memandang kebawah dan bahu yang rendah ia berkata kepadanya “Wahai sahabat Rendahdiri itu disini, sambil menunjuk di dadanya, bukan disini, sambil menunjuk bahunya.
Allah juga berfirman dalam Al-qur’an yang artinya “Hamba-hamba Ar-Rohan yaitu orang-rang yang berjalan di muka bumi ini dengan sikap rendahdiri”, Artinya Hamba-hamba Allah itu berjalan dimuka bumi dengan penuh husyu’ dan tawadhu’.
Rasa rendahdiri (tawadhu’) itu dihadapan Allah itu memang sebuah akhlaq yang terpuji yang tidak hanya dilakukan oleh manusia, bahkan makhluq lain pun harus tawadhu’ dihadapan Allah seperti yang di wahyukan oleh Allah kepada gunung “Hai Gunung-gunung, Aku akan berbicara dengan seorang Nabi disalah satu puncak diantaramu. Maka gunung-gunung berlomba-lomba meninggalkan diri dengan sombongnya. Sedangkan Gunung Thurusina justru merendahkandiri dengan penuh kerendahanhati. Maka Allah SWT lalu berbicara kepada Nabi Musa as dipuncak gunung ini (Thurusina) dikarenakan tawadhu’nya. Contoh lain ketika Allah SWT menenggelamkan kaum Nabi Nuh as Gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri tetapi bukit judy merendahkan dirinya karena itu Allah SWT menjadikan sebagai tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA.