Jumat, 27 Mei 2011

HIDUP SEDERHANA


Rasulullah SAW dan Nabi-nabi yang lain menyukai hidup sederhana dan wajar. Beliau menikmati ketenangan hidup secara sederhana bukan berlebih-lebihan dan berfoya-foya. Beliau hidup sederhana di segala urusannya sehari-hari baik itu dari segi makanan, berpakaian dan juga apa yang ada padanya. Beliau mencontohkan hidup yang baik pada umatnya dan bahkan penasehat mereka untuk hidup sederhana dan menahan diri dari hidup yang berpoya-poya. Dalam hadis-Nya Rasulullah mengajarkan pada umat-Nya untuk hidup sederhana.
“Orang yang mencapai kejayaannya ialah orang yang bertindak di atas prinsip Islam dan hidup secara sederhana. (HR. Ahmad Tirmidzi, Ibnu Majah, dikutip oleh mishkat, Edisi Urdu, Opcit Vol II, hal 245, No. 4934)
“Barang yang sedikit tetapi cukup (untuk memenuhi kebutuhan hidup) adalah lebih baik daripada banyak (tetapi menjadikan mereka lupa diri) dan menyesatkanya (dari jalan hidup yang sederhana). (Abu Naeem, Dikutip oleh Mishkat, Opcit. Vol II, hal. 348, No. 4962).
Al-Quran mengajak untuk hidup sederhana, menurut Al-Quran jalan yang terbaik adalah jalan tengah.
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. ( Al Furqaan: 67)
Meskipun Rasulullah mempunyai sumber kekayaan yang banyak, beliau tetap hidup secara sederhana yaitu berdasarkan keperluan-keperluan yang sederhana saja. Ini adalah suatu keteladanan yang sangat berharga untuk dicontoh dan diikuti. Bahkan keempat khalifah setelah beliau tetap mempertahankan hidup yang sederhana.
Anjuran Nabi ini tidak hanya terbatas pada pakaian saja tapi juga mencakup sandang, pangan, papan dan segala kebutuhan pokok. Begitu juga Allah melarang menjerat leher karena terlalu hemat sebagaimana dia melarang hambanya untuk hidup boros dan berpoya-poya, karena kedua sikap ini bertentangan dengan hidup sederhana.
1. Etika Hidup Sederhana
  • Sikap sederhana dalam membelanjakan uang pada saat krisis
Sikap yang baik adalah sikap yang sederhana dalam membelanjakan uang pada saat krisis. Inilah yang ditunjukkan oleh Al-Quran dalam kisah nabi Yusuf as.
Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.(QS. Yusuf: 47-48).
Ayat tersebut berisi pesan dan petunjuk kepada manusia agar mereka selamat dari krisis, dengan cara mengurangi barang yang dibelanjakan selama 7 tahun masa panen, agar kelak bisa digunakan pada masa krisis.
  • Sederhana dalam menggunakan uang negara
Jika sifat sederhana dituntut dalam kehidupan pribadi, juga dituntut dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam membelanjakan uang negara. Ini berlaku bagi semua jajaran, mulai dari kepala negara, menteri, Gubernur, sampai jajaran tingkat bawah. Para pemimpin umat Islam sepantasnya menjadi suri tauladan bagi rakyat dalam menjauhi korupsi dan memamerkan kemewahan dan kemegahan.
Pada masa kepemimpinannya, Nabi menolak tempat tidur yang empuk, bantal Nabi terbuat dari kumpulan sabut kelapa, sedangkan tikar yang beliau gunakan untuk tidur meninggalkan bekas dikulit tubuhnya. Saat meninggal dunia, beliau dalam keadaan berbaring ditempat tidur dengan menggunakan selimut kasar dan pakaian yang sangat sederhana. Begitu juga tindak-tanduk pemimpin umat Islam setelah Nabi, Abu Bakar r.a. Umar bin Khattab r.a, Usman bin Affan r.a, pada masa kepemimpinannya.
  • Islam mewajibkan umatnya bertindak moderat, mendahulukan yang primer daripada sekunder, mendahulukan sekunder daripada tersier, mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan golongan, dan mendahulukan kepentingan rakyat kecil daripada pejabat.
  • Menjauhi pemborosan dan memakan makanan secara sederhana, begitu juga pakaian dan tempat tinggal.
Dari pemaparan diatas bisa diambil kesimpulan bahwa Allah melarang menjerat leher karena terlalu hemat sebagaimana dia melarang hambanya untuk hidup boros dan berpoya-poya. Hendaknya seorang pemimpin tidak sombong dan congkak karena mempunyai banyak harta karena harta adalah amanah yang harus dipergunakan sesuai dengan fungsinya bukan disalahgunakan. Seorang muslim tidak bermewah-mewahan dan berlebih-lebihan dalam menggunakan harta. Kebebasan individu terbatas dengan kemaslahatan orang banyak oleh karena itu seorang yang ingin melakukan kebebasan harus mempertimbangkan apakah merugikan orang-orang sekitar atau tidak. Menetapkan hukum agar bisa menekan orang-orang yang hidup dalam kemewahan.
Sedangkan etika dalam hidup sederhana adalah bagaimana seorang muslim bersikap sederhana dalam membelanjakan uang pada saat krisis, sehingga bisa mempersiapkan segala kemungkinan terjadi. Sederhana dalam menggunakan uang negara dan tidak menyalahgunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi apalagi untuk berpoya-poya. Islam mewajibkan umatnya bertindak moderat, mendahulukan yang primer daripada sekunder, mendahulukan sekunder daripada tersier. Sikap sederhana seorang muslim adalah menjauhi pemborosan dan memakan makanan secara sederhana, begitu juga pakaian dan tempat tinggal semuanya dilakukan pada batas kewajaran.

4 komentar:

  1. Ass.wr.wb
    sy mau bertanya apakah tujuan hidup sederhana?
    apakah ini menyangkut masalah dosa dan pahala?
    apakah Nabi Sulaiman hidupnya sederhana juga?
    padahal Nabi Sulaiman ada kendaraan pribadi(kuda kesayangannya)dan istana yg super megah.jadi
    apakah status sosial tdk mempengaruhi gy hidup seseorang?
    apakah hidup mewah ataupun boros berdosa?
    sbg contoh sy pns punya uang pas2an unt kebutuhan primer spt rantangan,suatu malam sy bergadang krn ada tugas yg harus diselesaikan sy perokok dan sy membeli makanan dan kopi spy sy semangat lg bekerja dng menggunakan uang persediaan unt bulan depan,jd sy sudah berlebihan menggunakan anggaran pribadi dan tdk hemat apakah sy boros?setahu sy boros perbuatan setan,sdgkan yg sy lakkukan menurut sy perlu,itu kebutuhan sy.
    bukankah jika harta itu halal kita boleh membelanjakannya walaupun tersier sekalipun.
    contoh lain seorang pengusaha yg sdh mempunyai mobil mewah kemudian membeli mobil jenis lain unt memenuhi hasratnya,apakah ia berdosa?apakah ia tdk boleh bergaya hidup sprti itu? krn bagi sy batasan ditengah itu tdk jelas,kalaulah berlebihan dlm islam tdk boleh lalu unt apa kita kaya lebih baik miskin saja spy hati tdk terlena dengan dunia jd umat muslim tdk boleh kaya . yg sy tahu Nabi Muhammad tdr dialas tikar krn tdk mau hatinya lalai terhadap dunia.sedang Nabi Sulaiman lalai dng kudanya dan dibunuhnya lah kuda itu,apakah Nabi Sulaiman tdr diatas tikar juga ia raja lho.menurut sy Nabi mengajak kita umatnya hidup sederhana krn lebih terjamin akhiratnya banyak jg wali2 Allah yg hidup miskin makanya umat muslim sedikit yg kaya banyak yg miskin.kita tdk ada ambisi mengejar kekayaan padahal kekayaan penting,unt memenuhi kebutuhan kita,prinsip ekonomi mengatakan kebutuhan manusia tdk pernah cukup dan itu wajar. ataukah pendapat sy ini tdk benar?
    apakah islam membolehkan muslim membelanjakan hartanya sesuka hatinya?berdosakah?
    keseimbangan dan pengenalan diri sendiri apakah itu kunci kehidupan muslim? tolong pencerahannya bagi sy yg sdg bingung. terima kasih atas perhatiannya kang Naser, semoga diskusi ini diridhai Allah SWT.
    Ass.wr.wb

    BalasHapus
  2. Hidup sederhana bukan berarti harus miskin,Kita kaya boleh kalaupun kita dalam keadaan miskin juga harus bersabar. Yang ditekankan dalam hal ini ini adalah sederhana. bukan miskin. Islam mengajak umatnya untuk haji maka syaratnya kan harus mampu, dan kreteria mampu tentunya hidupnya mempunyai kelebihan / kaya. Ingat Islam tidak menyuruh pemeluknya untuk hidup miskin, malah mendorong bagaimana umat ini kaya, namun yang lebih deitekankan adalah sederhana. jadilah contoh, walaupun kaya/ jadi pejabat dsb namun tetaplah hidup sederhana jangan berlebihan. Sebab banyak saudara kita yang masih membutuhkan uluran tangan kita. Mungkin segini dulu komentar saya. kapan2 disambung

    BalasHapus
  3. Betul..bukan miskin tp sederhana..jgn lp kaya itu jg merupakan ujian dr اَللّه ,semua harta akan d pertanggungjawabkan kmna qt membelanjakanx,& semua akan ada balasanx meski itu baik maupun buruk..اَللّه lebih mengetahui dr pd kita semua & اَللّه maha adil

    BalasHapus

TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA.