Jumat, 06 Agustus 2010

PERSIAPAN MENGHADAPI BULAN RAMADHAN

Oleh : Ustadz Abdul Hasib Lc. (Pemimpin Yayasan Perguruan (ma’had) Al Hikmah, Bangka, Jak-Sel)
I. BULAN RAMADHAN
Bulan Ramadhan yang insya Allah sebent ar lagi akan kit a masuki, adalah bulan yang sangat mulia, bulan tarbiyah
(pembinaan) untuk mencapai derajat yang paling tinggi, paling mulia: derajat taqwa.
“Hai orang-or ang yang ber iman, diwaj ibkan at as kamu ber puasa, sebagaimana diwaj ibkan at as or ang-or ang sebelum
kamu, agar kamu bertaqwa. (QS Al Baqarah: 183).
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS Al Hujurat: 13).
Pr edikat t aqwa ini t idak mudah unt uk diper oleh. I a bar u akan diper oleh manakala seseor ang melakukan persiapan yang
cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.
II. MINIMAL ADA TIGA HAL YANG PERLU DIPERSIAPKAN
Minimal ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah itu:
1. Persiapan Ruh dan Jasad.
Dengan cara mengkondisikan diri agar pada bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan) kita telah terbiasa dengan berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat , dan tubuh sudah terlatih ber puasa Dengan kondisi seperti ini,maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah membaik, yang selanjut nya dapat langsung menyambut bulanRamadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjur kan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak phisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa,seperti: lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.
Rasulullah saw menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban ini dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif . ‘Aisyah RadhiyaLlahu ‘anha ber kata: ”Rasulullah saw berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya”. Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: ”Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan”. (Hadit shahih diriwayatkan oleh para ulama’ hadits, lihat Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain).
Anjuran tersebut dikuat kan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah ber tanya kepada Rasulullah saw. Katanya: ”Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya’ban ini?” Beliau saw menjawab: ”Itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa”. (HR An-Nasa-i).
2. Persiapan Materi.
Bulan Ramadhan mer upakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan member  santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun Cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.Rasulullah saw pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambar kan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah saw kepada masyar akat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap bendabenda di sekitarnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RadhiyaLlahu ‘anhu: ”Sungguh, Rasulullah saw saat ber temu dengan malaikat Jibril, lebih derma dari pada angin yang dilepaskan”. (HR Muttafaqun ‘alaih).
Santunan dan sikap ini sudah barang tentu t idak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.
3. Persiapan Fikri (Persepsi).
Minimal persiapan fikri ini meliputi dua hal, yaitu:
1. Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.
2. Dapat memanf aat kan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiat an-kegiat an yang secar a logis dan konkr it
mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan.
III. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN
1. Bulan Tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat taqwa.
Hai or ang-or ang yang ber iman, diwaj ibkan at as kamu ber puasa, sebagaimana diwaj ibkan at as or ang-or ang sebelum
kamu, agar kamu bertaqwa. (QS Al Baqarah: 183).
2. Bulan diturunkannya Al Qur’an.
Bulan Ramadhan, yang pada bulan it u Al Qur ’an diturunkan sebagai petunjuk buat manusia dan penj lasan tentang petunjuk itu, dan sebagai pemisah (yang haq dan yang batil) (QS AlBaqarah: 185).
3. Bulan yang paling utama, bulan penuh berkah.
Bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan, dan hari yang paling utama adalah hari Jum’at (HR At-Thabarani)
Dari Ubadah bin Ash-Shamit , bahwa Rasulullah saw –pada suat u har i, ket ika Ramadhan t elah t iba- ber sabda:
“Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan it u Allah swt memberikan naungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan Rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah swt akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Par a malaikat ber bangga dengan kalian, dan perlihat kanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan it u t idak mendapat Rahmat Allah swt”. (HR Ath-Thabarani)
4. Bulan ampunan dosa, bulan peluang emas melakukan ketaatan.
Rasulullah saw bersabda: “Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan dosa-dosa, apabila dosa-dosa besar dihindari“. (HR Muslim).
“Bar ang siapa yang melakukan ibadah di malam har i bulan Ramadhan, kar ena iman dan menghar apkan r idha Allah, maka
dosa-dosanya yang t elah lalu diampuni. (Mut t af aqun ‘alaih). Apabila Ramadhan dat ang, maka pint u-pint u syur ga dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup dan syaithon-syaithon dibelenggu“. (Muttafqun ‘alaih).
5. Bulan dilipat gandakannya amal shaleh.
Rabb-Mu ber kat a: ”Set iap per buat an baik dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat sampai t uj uh r at us kali lipat , kecuali puasa, puasa it u unt uk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah per isai yang melindungi dar i api
ner aka. Bau mulut or ang yang ber puasa di sisi Allah lebih wangi dar i pada par f um misik. Apabila or ang bodoh ber laku
jahil kepada seseor ang diant ar a kamu yang t engah ber puasa, hendaknya ia kat akan: ”Aku sedang ber puasa, aku sedang
berpuasa”. (HR At-Tirmidzi).
6. Khutbah Rasulullah saw menyongsong bulan suci Ramadhan sebagai bulan mulia, bulan ibadah, bulan santunan. Dar i Salman RadhiyaLlahu ‘anhu, kat anya: Rasulullah saw ber khut bah di t engah-t engah kami pada akhir bulan Sya’ban, beliau saw ber sabda: ”Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh ber kah t elah menaungi. Bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewaj ibkan ber puasa. Qiyamullail disunnahkan. Bar ang siapa yang pada bulan it u mendekat kan dir i kepada Allah dengan suat u kebaikan, nilainya seper t i orang yang melakukan per buat an yang diwaj ibkan pada bulan lainnya. Dan bar ang siapa yang melakukan suat u kewaj iban pada bulan it u, nilainya sama dengan t uj uh puluh kali lipat dar i kewaj iban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Bulan
Ramadhan adalah bulan sabar , sabar itu balasannya syurga, Ramadhan adalah bulan santunan. Bulan ditambahkannya rizqi orang mukmin. Siapa yang memberikan makanan untuk ber buka kepada seorang yang berpuasa, balasannya adalah ampunan terhadap dosa-dosanya, dirinya dibebaskan dari neraka, dan dia mendapat kan pahala sebesar yang didapat oleh orang yang ber puasa, t anpa mengur angi pahala or ang t er sebu”t . Sahabat ber koment ar , kata mereka: ”Ya
Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk berbuka yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa? Sabda
Rasulullah saw: ”Pahala tersebut akan diberikan Allah, meskipun yang diberikan untuk berbuka bagi yang berpuasa hanya
satu buah kurma, atau seteguk air, atau sesendok mentega”.
Bulan Ramadhan awalnya r ahmat , t engahnya ampunan dan akhir nya pembebasan dar i ner aka, siapa yang member ikan
keringanan bagi hamba sahayanya pada bulan itu, Allah akan ampuni dosanya, dan dia dibebaskan dari neraka.
Pada bulan ini, per banyaklah empat hal, dua diant ar anya membuat kamu dir idhai Rabbmu, dan dua yang lainnya sesuat u
yang sangat kamu butuhkan”.
“Dua hal yang membuat kamu diridhai Rabbmu adalah:
i. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan
ii. Kamu meminta ampunan kepada-Nya.
Sedangkan dua hal lainnya yang sangat kamu butuhkan adalah:
i. Kamu meminta syurga kepada Allah, dan
ii. Kamu minta dilindungi dari neraka.
Siapa yang member ikan minum kepada or ang yang ber puasa, Allah akan member ikan minuman kepadanya dar i t elagaku
yang tidak akan menjadi haus sampai dia masuk syurga”. (HR Ibnu Khuzaimah).
7. Ramadhan bulan jihad, bulan kemenangan.
Sej ar ah mencat at , bahwa pada bulan suci Ramadhan inilah beber apa kesuksesan dan kemenangan besar dir aih ummat
I slam, yang sekaligus membukt ikan bahwa Ramadhan bukan bulan malas dan lemah, t api mer upakan bulan kuat , bulan
jihad, bulan kemenangan.
Perang Badar Kubr o yang diabadikan dalam Al Qur ’an sebagai yaumul f ur qan (har i pembeda ant ar a kebenar an dan
kebatilan), dan ummat I slam saat it u mer aih kemenangan besar , t er j adi pada t anggal 17 Ramadhan t ahun 2
Hijriyah. Dan saat itu, gembong kebatilan: Abu Jahal, terbunuh.
Pada bulan Ramadhan pula f at hu Makkah (pembukaan Makkah) t er j adi, yang dibadaikan dalam Al Qur ’an sebagai
Fathan Mubiiina (kemenangan yang nyata), tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 (delapan) Hijriyah.
Ser angkaian per ist iwa besar lainnya j uga t er j adi pada bulan Ramadhan, seper t i: beber apa per t empur an dalam
perang Tabuk, terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 (sembilan) Hijriyah.
Tersebarnya Islam di Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah.
Dit aklukkannya Andalus (Spanyol sekar ang) di bawah pimpinan Thar iq bin Ziyad pada t anggal 28 Ramadhan t ahun
92 Hijriyah.
Peper angan ‘Ain J alut , dimana unt uk per t ama kalinya pasukan I slam ber hasil mengalahkan bangsa Mongol Tar t ar ,
yang sebelumnya sempat dianggap must ahil, j uga t er j adi pada bulan Ramadhan t ahun 658 Hij r iyah. Dan masih
banyak lagi yang lainnya.
IV. ADAB DAN KIAT MENGISI RAMADHAN
1. Puasa yang baik dilakukan dengan motivasi karena Allah.
“ Semua amal ibnu Adam adalah unt uknya, sat u kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat nya sampai t uj uh r at us kali
lipat , Allah SWT ber f irman: kecuali puasa, ia adalah unt uk-KU, dan AKU yang akan membalasnya, sesungguhnya ia t elah
meninggalkan syahwat nya, makanannya, dan minumannya demi AKU, or ang yang ber puasa memiliki dua kegembir aan,
sekali wakt u ber buka dan sekali lagi wakt u ber t emu Robbnya, sungguh bau t idak sedap mulut or ang yang ber puasa it u
lebih wangi disisi Allah SWT dar ipada minyak misik“. (lihat Shahih Bukhar i hadit s no: 1904, dan lihat Shahih Muslim
hadits no: 163 bab keutamaan puasa dengan sedikit diringkas).
2. Disunnahkan bagi yang berpuasa agar memperlambat makan sahur, dan mempercepat berbuka.
• “Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan“. (HR Muslim).
• “Mint alah per t olongan dengan makan sahur agar dapat ber puasa disiang har inya, dan dengan t idur siang, agar dapat
qiyamul-lail di malam hari“. (HR Ala Hakim)
• “Ada t iga hal yang dicint ai Allah ‘Azza wa j alla: menyeger akan ber buka, mengakhir kan sahur dan melet akkan t angan
kanan di atas tangan kiri ketika shalat“. (HR Ath-Thabarani)
• “Manusia akan selalu dalam keadaan baik, selama mereka menyegerakan berbuka”. (HR Muslim).
3. Berdo’a ketika berbuka.
• “Bagi orang yang berpuasa ketika ia berbuka, do’anya tidak ditolak“. (HR Ibnu Majah).
• ”Ya Allah, unt uk-Mu aku ber puasa, dan dengan r izqi-Mu aku ber buka, kepada-Mu aku ber t awakkal, kepada-Mu aku
ber iman, dahaga t elah hilang, ur at -ur at pun t elah membasah dan pahala t elah Engkau t et apkan insya Allah t a’ala. Ya
Allah yang Maha Luas kar unia-Nya, ampunilah aku, segala puj i bagi Allah, yang t elah member ikan per t olongan kepadaku,
sehingga aku dapat berpuasa dan yang telah memberikan rizqi kepadaku, sehingga aku dapat berbuka”.
4. Memberikan makanan untuk orang yang berbuka puasa.
”Bar ang siapa yang member ikan makanan unt uk ber buka bagi yang ber puasa, maka dia akan mendapat kan pahala seper t i
or ang yang ber puasa dan yang ber puasa it u t idak dikur angi pahalanya sedikit pun” (HR Ahmad, At -Tirmidzi, I bnu Maj ah
dan Ibnu Hibban).
5. Menjaga mat a, t elinga danlidah sert a anggot a- anggot a tubuh lainnya dari perbuat an yang t idak ada
faedahnya, dan menjauhkan diri dari perbuatan- perbuatan dosa.
• ”Bar ang siapa yang t idak menj auhkan kat a-kat a dan per buat an bohong, maka Allah t idak mener ima puasanya”. (HR
Bukhari).
• ”Bisa j adi or ang yang qiyamul-lail it u hanya mendapat kan meleknya saj a dan bisa j adi or ang yang ber puasa it u hanya
mendapat kan lapar dan hausnya saj a.” (HR Ahmad, At h-Thabar ani dan Al Baihaqi dar i I bnu Umar , j uga dir iwayat kan
oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan redaksi sedkit berbeda).
6. Memberikan perhat ian yang lebih besar, baik moral at aupun mat erial kepada keluarga dan sanak f amili sert a
memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.
”Rasulullah saw adalah or ang yang paling dermawan, dan beliau saw lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ket ika
bertemu Jibril ‘Alaihis-Salam, sungguh, kedermawanan beliau saat it u lebih kuat dar ipada angin yang ber t iup” (HR
Muttafaqun ‘alaih).
7. Meningkatkan kaj ian t ent ang I slam, t adarrus, t ilawah dan t ela’ah Al Qur’an, dzikir, do’a dan amal- amal
kebajikan lainnya (QS Al Baqarah: 183 – 187).
”Dan J ibr il ‘Alaihis-Salam menj umpai nabi saw pada set iap malam bulan Ramadhan, danbeliau mengaj aknya ber t adar r us
Al Qur’an”. (HR Muttafaqun ‘alaih).
8. I’tikaf pada ‘Asyrul Awakhir (10 hari terakhir bulan Ramadhan) dan meningkatkan aktifitas ibadah pada harihari
tersebut.
”Nabi saw apabila memasuki sepuluh har i t er akhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), beliau
membangunkan keluarganya dan beliau menjauh dari istrinya”.
9. Meningkatkan kesadaran bermuroqobah, merasa diawasi t erus oleh Allah swt yang Maha Menget ahui, dan
selalu menyadari bahwa diri kita tengah berpuasa, tengah beribadah dalam rangka mencapai ketaqwaan.
”Dan agar kamu mengagungkan Allah sesuai dengan apa yang ditunjukkan kepadamu” (QS Al Baqarah: 185).
10. Pandai menentukan skala priorit as amal islami dengan mengutamakan amal- yang lebih pent ing, lebih banyak
manf aatnya dan lebih cepat mengant arkannya ke syurga, baik ber upa ber j uang di j alan Allah dalam menegakkan
kalimat-Nya at aupun ber inf aq f i sabilillah, seper t i yang dicont ohkan oleh Rasulullah saw dan sahabat -sahabatnya.
Ket ika or ang-or ang mint a dispensasi dar i ber inf aq dan ber j ihad, Rasulullah saw ber sabda: ”TIDAK
BERSHODAQAH, DAN TIDAK BERJIHAD? JADI, DENGAN APA KAMU INGIN MASUK SYURGA?“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA.