Minggu, 11 Juli 2010

MENUMBUHKAN PERCAYA DIRI

Menumbuhkan Percaya diri

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

“A'udzubillaahi minasyaithoonirrojiim Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha wal tanzhur nafsum maa qaddamat li ghadin wat taqullaaha innallaaha khabiirum bi maa ta’maluun (Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat), dan bertakwalah kepadab Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S: Al Hasyr 18)

“Wa laa takuunuu kal ladziina nasullaaha fa ansaahum anfusahum ulaa-ika humul faasiquun (Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh,lalu Alloh Menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik)” (Q.S: Al Hasyr 19)

“Laa yastawii ash-haabun naari wa ash haabul jannati humul faaizuun (Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah
orang-orang yang beruntung) (Q.S: Al Hasyr 20)

ManajemenQolbu.Com : Selain yakin terhadap pertolongan Alloh, ada satu hal lain yang harus kita perhatikan yaitu yakin kepada kemampuan diri sebagai syariat titipan Alloh. Bagaimana kita bisa melakukan sesuatu dengan baik kalau kita tidak yakin? Bahkan mengacungkan tangan untuk bertanya dalam sebuah pertemuan pun kadang-kadang kita tidak mempunyai keberanian.
Lalu bagaimana caranya untuk menumbuhkan kepercayaan diri? Ada tujuh langkah yang dapat ditempuh untuk itu dan akan kita bahas secara singkat satu persatu
Langkah yang pertama adalah ; Kita harus benar-benar menyadari bahwa Alloh menciptakan kita benar-benar dengan perhitungan dan pertimbangan Yang Maha Cermat. Seperti di firmankan Alloh SWT dalam Surat At Tiin ayat 4 ”La qad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim”(”Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”). Saudaraku yang baik, jangan sekali-kali kita menyesali kenapa kita terlahir ke dunia ini. Yakinlah Alloh menciptakan manusia berbeda dengan makhluk lainnya , yaitu diberikan akal untuk memilih kebaikan atau keburukan. Apalagi kalau kita ingat tentang bagaimana sperma berjumpa dengan sel telur. Bukankah diantara 250 juta sperma yang terpancar untuk berlomba berjumpa dengan sel telur hanya satu saja yang berhasil ? Dan itu adalah kita. Jadi kita pernah bertarung tanpa kita sadari dengan begitu banyak calon manusia lainnya. Itulah yang harus membuat kita yakin bahwa kita ini adalah orang yang memiliki potensi untuk sukses.
Yang kedua supaya percaya diri kita bangkit yaitu dengan belajar mensyukuri nikmat yang diberikan Alloh kepada kita. Dengan karunia akal,...... Alhamdullillah kita bisa berpikir. Dengan karunia mata ,......Alhamdullilah kita bisa melihat. Dengan karunia telinga,......... Alhamdullilah kita bisa mendengar.Dengan karunia Mulut,.......... Alhamdullilah kita bisa berbicara. Dengan karunia tubuh, ..........Alhamdullilah kita masih punya hati,dan dengan karunia akhirnya kita begitu banyak memiliki potensi. ”La in syakartum la aziidannakum .......Sungguh jika kamu bersyukur , niscaya Kami akan menambah(nikmat) kepadamu. (Q.S ;Ibraahiim ayat 7). Oleh karena itu daripada kita memikirkan yang tidak ada lebih baik kita memikirkan potensi yang ada. Kalau saudara kita yang Tuna Netra, Alhamdullilah ternyata telinganya masih bisa mendengar.Kalau saudara tidak bisa mendengar Alhamdullilah masih bisa membaca, begitulah seterusnya. Carilah nikmat Alloh yang telah diberikan untuk kita syukuri karena setiap syukur nikmat Insya Alloh akan mendatangkan nikmat yang lainnya.
Langkah yang ketiga yang dapat dilakukan adalah ; Sering-seringlah membaca diri kita, yaitu dengan cara bertanya kepada ibu, bapak, suami, istri, ulama, guru, ataupun bila perlu kepada psikolog untuk mengetahui potensi kemampuan diri.
Langkah keempat yaitu sering-seringlah bertemu atau membaca buku biografi orang-orang yang sukses, karena biasanya jika mendengar kisah dari orang-orang yang sukses dapat menumbuhkan semangat. Semakin banyak input dari kisah orang-orang yang berhasil bangkit dari keterpurukan Insya Alloh akan membuat inspirasi bagi kita. Kita ambil contoh Nabi Muhammad, ketika beliau diboikot tetapi dapat bangkit kembali, bagaimana orang yang terusir seperti beliau dapat kembali ke tanah kelahiran untuk membangkitkan moral, bagaimana seorang yatim piatu seperti Nabi Muhammad saw bisa bangkit menjadi seorang pengusaha yang sukses.
Langkah kelima ialah dengan memulai memperbaiki pergaulan kita ; kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri akan berbeda dibandingkan bergaul dengan orang-orang yang gagal. Karena bergaul dengan orang-orang yang percaya diri semangatnya Insya Alloh akan menular kepada diri kita. Bergaul dengan orang-orang yang sukses kesuksesannya Insya Alloh akan menjadi inspirasi kita. Jadi salah dalam memilih teman, salah dalam memilih pergaulan = salah dalam memompa kemampuan kita.
Langkah keenam;kalau kita ingin percaya diri ada kunci yang lain yang harus dilakukan sesudah kita tahu potensi, yaitu Do It Now lakukan sekarang juga dengan keberanian yang telah kita punyai, karena setiap kali kita bertambah pengalaman Insya Alloh akan menambah percaya diri. Contoh dalam berpidato ; Percaya diri akan meningkat ketika kita sudah mencobanya.Begitupun ketikaAl Quran pengalaman membuat kita semakin percaya dan menambah kemampuan.Patut dicatat ; kegagalan itu adalah jika dilandasi niat yang jelek dan ikhtiar yang tidak maksimal. Gagal adalah orang yang tidak pernah berani mencoba.
Langkah ketujuh atau langkah terakhir adalah ; kepercayaan diri akan bertambah dengan memperkokoh ibadah dan doa kita ,karena doa dan ibadah dapat mengundang pertolongan Alloh. Semakin kokoh ibadah kita,sholat kita, makin kuat doa-doa kita dan keyakinan kita dengan pertolongan Alloh , maka Insya Alloh akan dibukakan jalan keluar bagi permasalahan yang datang kepada kita.Wallahu a’lam (and/mikha)www.manajemenqolbu.com***


Menghidupkan Hati
Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

ManajemenQolbu.Com : Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Saudaraku yang baik, saat ini kita mencoba memohon pertolongan Allah agar kita lebih mengenal siapa Allah, bagaimana cara mendekat kepada Allah dan tahu apa yang akan menghijab dari Allah.
“Bagaimana akan dapat terang hati seorang yang gambar dunia ini terlukis dalam lensa cermin hatinya, atau bagaimana akan pergi menuju kepada Allah padahal ia masih terikat dan terbelenggu oleh syahwat hawa nafsunya, atau bagaimana akan dapat masuk ke hadirat Allah padahal ia belum bersih suci dari kelalaiannya atau bagiannya yang di sini diumpamakan dengan janabatnya mengharap akan mengerti rahasia yang halus padahal ia belum bertobat dari kekeliruan-kekeliruannya”(*Dari Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Ataillah)
Saudaraku yang baik, bagaimana mungkin seseorang hatinya akan terang benderang kalau di hatinya ini selalu duniawi saja yang terlukis, bagaimana mungkin seseorang akan dapat mendekat bergerak kepada Allah kalau dia masih diikat dan dibelenggu oleh syahwat nafsunya , dan bagaimana bisa membuka pintu gerbang kedekatan dengan Allah kalau dia masih melumuri dirinya dengan aib dosa dan belum mensucikan dirinya.
Kurang lebih kita ibaratkan sebuah wadah. Bagaimana bisa diisi makanan yang nikmat andaikata wadah ini penuh dengan kotoran , penuh dengan belatung. Tentu senikmat apapun makanan tidak akan pernah dinikmati , karena tidak bisa bercampur kotoran dan kesucian.
Suatu saat Nabi Muhammad saw pernah berjalan melalui pasar yang diikuti sahabat dan orang-orang lain. Kebetulan beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang putus telinganya. Ditunjukkannya kambing tersebut sambil bersabda: "Siapa diantara kalian yang mau menerima kambing ini dengan harga satu dirham?" Orang-orang menjawab: "Kami tidak ingin memilikinya". Nabi bersabda: "Apakah kalian mau memilikinya tanpa bayaran?" Salah seorang menjawab: "Demi Allah, sekiranya dia hidup pun kami tidak menyukainya, karena telinganya putus, apalagi sudah menjadi bangkai begini, buat apa?". Nabi saw. bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya dunia ini menurut pandangan Allah, lebih hina dari pandanganmu terhadap bangkai anak kambing ini".(H.R. Muslim yang bersumber dari Jabir). Dunia yang mana; harta? kedudukan? jabatan?, ternyata Rasulullah berharta , Rasulullah memiliki kedudukan dan populer , Rasulullah memiliki kekuasaan . Yang disebut dunia adalah semua yang disebutkan tadi yang membuat lalai kepada Allah ,contoh ; mencari harta dan membuat lalai kepada Allah itulah dunia ; membabi buta mencari nafkah sedangkan shalat diabaikan , kejujuran diabaikan. Itulah pecinta dunia .
Sedangkan pecinta Allah sama sibuknya dengan gigih mencari harta tetapi selalu Allah yang dipikirkan , karena yakin Allah yang membagikan rejeki ; dia berdagang tapi dia yakin Allah yang menggerakan pembeli , dia tidak mau mengurangi timbangan 1 mg pun , dan dia tidak mau ada ketidakjujuran yang dia inginkan hanya untuk memudahkan jual beli karena jual beli yang mudah diberkahi oleh Allah. Dia tidak akan tamak dengan keuntungan karena dia tahu menguntungkan orang lain adalah disukai oleh Allah , dia bisnis , dia sibuk dengan harta tetapi kesibukannya membuat dia semakin taat kepada Allah , yang seperti itu bukan bukan dunia yang menghinakan. Pebisnis atau pedagang yang jujur termasuk orang yang berkedudukan di sisi Allah, dan kelak kalau sudah wafat bisa setara kekasih-kekasih Allah , mengapa ? karena hiruk pikuk dunianya justru membuat dia dekat dengan Allah , ini perlu kita pahami.
Lalu kekuasaan ; ada orang yang berkuasa kemudian jadi dzalim dan sibuk mempertahankan kekuasaannya, sepanjang hari yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana berkuasa , itu adalah duniawi. Tapi bagi orang yang tidak tamak dengan kekuasaan justru yang dia pikirkan adalah bagaimana dengan kekuasaannya kebenaran bisa menjadi milik ummat , bagaimana dengan kekuasaannnya keadilan dapat ditegakkan dan memudahkan orang lain untuk dekat dengan Allah, nah kekuasaan yang seperti ini tidak diartikan sebagai duniawi .
Selanjutnya bagaimana orang bisa melesat berjalan ke arah Allah kalau dirinya masih terbelenggu ,bukankah kalau kita terbelenggu sulit untuk melangkah ? bukankah kita kalau diikat sulit untuk mendekat ? maka Allah menciptakan nafsu bagi kita bukan untuk membelenggu kita untuk mendekat kepada Allah tapi orang-orang yang diperbudak nafsu memang akan terikat. Kita ambil contoh dengan nafsu perut ; seseorang yang nafsu perutnya telah membelenggu maka yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana untuk mencari makanan yang enak yang dapat memuaskan perutnya.Dia rela untuk pergi jauh dan membayar dengan harga yang mahal untuk memuaskan perutnya. Tapi bagi orang yang lapar dan laparnya digunakan untuk mendekat kepada Allah ,maka dia akan taklukan nafsu perutnya itu dengan shaum . Tidak boleh diperbudak makanan, dia hanya mau makan kalau sudah lapar , dia berhenti makan ketika sebelum kenyang , setiap dia makan yang dia lihat bukan makanannnya tapi siapa yang memberi makannya, walaupun hanya dengan garam dia tahu semua ini karunia Allah. Makan penuh dengan rasa syukur karena lidahnya masih berasa , makan dengan rasa syukur karena masih berjumpa dengan nasi dan garam , makan dengan rasa syukur karena kita masih bisa menikmati makanan dibanding saudara kita yang lapar , maka dia makan tapi bukan nafsu yang berjalan tapi makrifat dia menemukan butir-butir nasi. Allahu Akbar! Padahal dirinya jauh dari ladang tetapi dia dimudahkan ; ada bagian yang mengetam, menumbuk , ada bagian yang memasak, dan sekarang dia terpilih pada sebagai orang yang menikmati makanan yang dihidangkan oleh Allah nun jauh dari sana. Garam dari laut ada yang mengambil, mengeringkan sampai di piring ,Allahu Akbar ! .
Maka ,lapar yang seperti itu Insya Allah akan menjadi pendekat kepada Allah.Inilah kenikmatan dan orang yang menjalankan makan penuh dengan ingatan kepada Allah sepanjang makan Insya Allah jadi ibadah , sambil makan ingat kepada saudaranya yang lapar dan makin bertambah rasa syukurnya. Jauh berbeda dengan pecinta nafsu hari demi hari diperbudak dengan makanan saja , belum lagi yang diperbudak oleh amarah sehari-hari hanya dipikirkan bagaimana memuntahkan ketidaksukaannya
Jadi bagaimana kita akan mendekat kepada Allah kalau kita belum membersihkan diri kita , Allah Maha Suci sedangkan kita amat nista "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri." (QS. 2 : 222). Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membuat hati kita menjadi tempat kasih sayang Allah ? kalau pada diri ini kita kumpulkan kebencian , maka sulit orang-orang yang tidak punya waktu untuk membersihkan hati untuk meraup kedekatan dengan Allah , “Qad aflaha man zakkaahaa, Wa qad khaaba man dassaahaa” (Q.S: Asy Syams: 9-10) Artinya : Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.
Maka kegigihan kita untuk sekuat tenaga bertobat, ketika berbuat dosa hapus kembali dengan tobat; 1 noktah tinta bersihkan, jangan biarkan tinta-tinta ini berkumpul menebal karena akan sangat sulit membersihkannya, perbanyaklah istighfar karena kalau cermin sudah berkilau Insya Allah kita akan tahu siapa diri kita dan orang lain pun dapat memanfaatkan cermin ini. Kita rindu sekali agar dibimbing oleh Allah, Allah lah yang Maha Tahu semua ilmu yang bisa membuat kita sampai kepadanya Allah-lah Yang Maha Tahu bagaimana kita bisa mengenalnya. Maka kuncinya adalah berusahalah sekuat tenaga untuk menjadi orang yang mendekat dengan cara mengamalkan ilmu karena barang siapa yang mengamalkan ilmu yang diketahuinya niscaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahui oleh kita. Wallahu a’lam (mikha).


Kekayaan Yang Hakiki
Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

ManajemenQolbu.Com : Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Saudaraku yang budiman, kekayaan seseorang itu tidak terletak pada uangnya tetapi terletak pada bathinnya.
*)“ Hendaknya membelanjakan setiap orang kaya menurut kekayaannya ialah mereka yang telah sampai kepada Alloh dan orang yang terbatas rejekinya yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Alloh, orang yang telah sampai kepada Alloh karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Alloh ke alam tauhid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan paham yang terbatas mereka inipun mengeluarkan sekedarnya”
*) Dari Kitab Al Hikam Syekh Ibnu Ataillah
Saudaraku, orang yang kaya itu bisa dilihat dari sedikitnya kebutuhan karena kalau orang sedikit kebutuhannya sehingga senang menafkahkan kekayaannya itulah orang yang kaya harta , tapi kalau orang memiliki uang dan lebih sibuk disembunyikan dalam tabungannya sebenarnya dia termasuk miskin karena dia takut berkurang rejekinya. Pahamilah, makin banyak takut kekurangan akan membuat semakin miskin,padahal orang yang kaya tidak pernah takut kekurangan.
Orang yang paling kaya hakiki adalah orang yang yakin kepada jaminan Alloh sehingga dia ringan untuk bershadaqah, karena shadaqah tidak akan mengurangi harta tetapi justru akan menambah. Jadi jangan melihat kekayaan orang dari apa yang dimilikinya tapi lihatlah kekayaan orang dari apa yang bisa dinafkahkannya.
Kekayaan lain adalah ilmu, orang yang kaya dengan ilmu dia akan leluasa mengajari ilmu. Dia akan mencari ilmu yang kemudian dia sampaikan kepada orang lain sesudah dia amalkan. Tapi ada juga orang yang memiliki ilmu kemudian dia kikir dan tidak mau memberikan kepada yang lain, orang seperti ini sebetulnya bukan termasuk orang yang berilmu.
Ciri keilmuan seseorang adalah kalau dengan ilmunya dia makin lapang dan semakin dekat dengan Alloh dan makin gemar memberikan ilmunya bagai cahaya matahari yang tidak pernah merasa rugi dengan mengeluarkan cahayanya.
Kekayaan seorang ahli makrifat adalah kekayaan dengan mengenal Alloh dengan baik , dan dia kaya dengan pengenalan akan kebesaran dan Keagungan Alloh. Seorang ahli makrifat akan sangat leluasa menjelaskan siapa Alloh, dan tidak semua orang dapat menjelaskan Alloh bahkan ada orang yang untuk menyebut Alloh saja tidak sanggup, paling tinggi dia hanya berani menyebut Tuhan , Yang di Atas ,atau Dia Yang Maha Kuasa, semuanya terasa begitu berat sekali karena dia memang miskin dalam keyakinan kepada Alloh.
Saudaraku, orang yang miskin akan keyakinan sulit sekali untuk memberikan ketenangan pada istrinya, kepada anaknya, dan dia sendiri tidak memiliki sumber ketenangan itu. Orang yang jauh dari Alloh dia selalu gelisah dan tidak bisa menenangkan keluarganya , karena apa yang akan dia tenangkan ? dia sendiri saja tidak memiliki sumber ketenangan.
Makanya orang yang sudah kenal dan akrab dengan Alloh dirinya akan memiliki ketenangan yang melimpah kepada dirinya , akibatnya dia bisa menenangkan banyak orang di sekitarnya.Misalnya ; ketika wajahnya bersikap tenang saja sudah membuat orang lain tenang menatapnya.
Orang yang sudah mengenal Alloh sekujur tubuhnya memiliki ketenangan yang luar biasa dan dia kaya sekali untuk mendistribusikan ketenangannya kepada oranglain, kaya untuk mendistribusikan hartanya karena dia tidak takut miskin, kaya untuk mendistribusikan ilmunya, tenaganya dan pikirannya. Inilah orang yang kaya hakiki.
Orang yang leluasa sekali untuk mendoakan orang lain, senang menolong orang lain dan tidak pernah berat untuk menyenangkan orang lain serta menghormati orang, itulah orang yang kaya hakiki. Karena ada orang yang miskin dengan penghargaan , itu terlihat dari sikapnya yang dimanapun ingin selalu dihargai dan dihormati, ingin dibedakan , ingin dispesialkan dan kalau tidak dihargai dia malah sakit hati,dan itu semua menandakan kemiskinannya karena sebenanya dia belum berharga.
Bagi seorang yang makrifat kepada Alloh, dia kaya karena dia tidak membutuhkan apapun dan dari siapapun kecuali dari Alloh semata. Sehingga hidupnya tenang dan mantap , tidak menjilat, tidak meminta-minta , tidak menggadaikan dirinya. Mungkin rumahnya sederhana tapi bathinnya megah , mungkin uangnya sedikit tapi bathinnya kaya, mungkin tanahnya sempit tapi hatinya lapang , mungkin tubuhnya mungil tapi jiwanya besar. Dan inilah kekayaan hakiki.
Saudaraku yang budiman, jangan sampai mengganggap melimpahnya kekayaan sebagai karunia Alloh yang memuliakan kita, karena belum tentu karena adakalanya berbentuk istidraj namanya, yaitu ; oleh Alloh diberi tapi hanya menambah kerugian dan kesesatan. Waspadalah saudaraku, kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan pada bathin kita. Wallahu a’alam (mikha) [www.manajemenqolbu.com]***

7 kebiasaan Kaum Muda yang Sangat Tidak Efektif
taburkanlah fikiran mu , maka kamu akan menuai perbuatan
taburkanlah suatu perbuatan maka kamu akan menuai kebiasaan
taburkanlah suatu kebiasaan maka kamu akan menuai karakter
taburkanlah suatu karakter maka kamu akan menuai takdir
Oleh : Anistia Solihat
ManajemenQolbu.Com - Muslimah : Sahabat ,.................... Mula- mula kita membentuk kebiasaan kita lama kelamaan kebiasaan kita lah yang membentuk kita. Sebenarnya kalau kita ingin bertanya pada diri kita apa sebenaranya dan bagaimana nanti masa depan kita caranya adalah sangat sederhana lihatlah apa yang kita lakukan hari ini . Kita boleh saja saat ini menjadikan beban dalam hidup tanggung jawab yang kita pikul saat ini. Dan kadang -kadang kita merasa jenuh dengan keadaan seperti ini sadarilah dalam diri mu dan mungkin anda akan membayangkannya dalam diri , akan seperti apa masa depan kita nantinya maka untuk kita sadari ada banyak kebiasaan yng harus kita hindari yaitu :
1. Bersikap reaktif
Silahkan salahkan masalah mu pada orang lain untuk kamu jadikan kambing hitam lingkungan yang membosankan , temanmu , pemerintah atau apalah atau siapalah , tidak usah bertanggung jawab atas hidup mu sendiri . bersikap lah masa bodo dengan keadaan kalau lapar , kalau seorang membentakmu, balaslah dengan bentakan kalau ingin melakukan sesuatu yang kamu keliru.
2. Tidak usah punya tujuan akhir .
Tidak usah punya rencana sebisa mungkin hindari sasaran-sasaran dan tidak pernah pikirkan hari esok. Untuk apa memikirkan ganjaran-ganjaran dari perbuatanmu, hiduplah untuk saat ini , tidurlah sesukamu, sia-siakan waktumu karena besok juga kita akan mati, silahkan berbuat sesukamu.
3. Lupakan yang utama.
Apapun yang penting dalam hidupmu, tidak usah kamu kerjakan sampai kamu puas, nontonlah sesukamu , ngobrol tiada habis-habisnya di telepon, lihat - lihat internet dan mejeng, tundalah tugasmu ampai besok.Kerjakan yang tidak penting dulu ketimbang yang penting.
4. Usahakanlah untuk selalu menang, pandanglah hidup ini sebagai persaingan yang kejam.
Teman sekelasmu ingin mengalahkan , maka sebaiknya kamu kalahkan dia. Jangan biarkan siapapun sukses dalam apapun, karena ingatlah kalau mereka menang kamu yang kalah, tapi kalau kelihatan kamu akan kalah , sikutlah temammu itu.
5. Usahakan untuk biasa bicara dulu lalu pura-pura untuk mendengarkan .
Kamukan dilahirkan dengan mulut, jadi pastikanlah kamu banyak bicara, ungkapkanlah pandanganmu dulu, begitu kamu yakin semua orang mengerti pandanganu, berpura-puralah mendengarkan dan menganguk-angukan. Dan menjawab ya..ya. Atau kalau kamu ingin sungguh mendengar pandangan mereka bilang saja.
6. Jangan bekerja sama.
Hadapilah kenyataan, orang lain itu anehkan karena mereka berbeda denganmu untuk apa berusaha akur dengan mereka? Kerjasamakan hanya berlaku untuk semut. Karena kamu yang selalu punya gagasan yang baik, lebih baik mengerjakan segalanya sendirian ibarat pulau.
7. Mati-matianlah walaupun kamu kelelahan.
Sibukanlah dirimu sedemikian rupa sehingga tidak pernah meluangkan waktu untuk memperbaharui atau memperbaiki dirimu. Tidak usah belajar sesuatu yang bar. Hindarilah olah raga seperti penyakit. Dan demi sorga jauhkan dirimu dari buku-buku yang baik, dari alam ataupun dari apapun yang memberikan anspirasi kepadamu. (ANS)[mq]***

Guci Cantik dan Kaleng Kosong

ManajemenQolbu.Com : Layaknya pasangan yang baru saja menikah, kami sedang suka-sukanya jalan-jalan menikmati indahnya hidup. Suatu sore di awal September 2002 kami berdua menyengaja jalan-jalan menyusuri Malioboro, sebuah kawasan yang tak asing lagi bagi para pelancong baik asing maupun domestik. Lokasi wisata yang terhampar unik di Kota Yogyakarta ini memang selalu ramai dikunjungi orang. Beragam niat orang datang ke sana. Ada yang sekedar jalan-jalan melihat-lihat suasana, ada yang menuruti hobi mengamati barang-barang kerajinan yang antik ada juga yang memang berniat berbelanja, memborong barang-barang yang banyak dijajakan di sana.
Kami sangat menikmati suasana sore yang tampak ramai padat disesaki pengunjung kala itu. “Mumpung sudah sampai sini maka harus benar-benar dinikmati dan dimanfaatkan kesempatan ini”, begitu pikirku waktu itu. Karena kebetulan kami menetap di Bogor sehingga untuk bisa pergi ke Yogya seperti ini barangkali menjadi sesuatu yag cukup langka kesempatannya buat kami. Aksi berbelanja pun kami mulai. Mulai dari mencicipi makanan-makanan khas Kota Gudeg ini sampai beli-beli barang-barang antik seperti aneka karpet dan guci-guci cantik khas Yogya. Sebenarnya saat itu sempat terbersit dalam benakku, “Buat apa belanja barang-barang seperti ini. Kalau dipikir-pikir ini kan bukan kebutuhan mendesak.” Apalagi mengingat kondisi ekonomi rumah tangga kami yang memang belum mapan. Maklum kami baru 3 bulan menikah. Namun entah mengapa bisikan hatiku bahwa kesempatan ini belum tentu terulang dua kali terasa begitu kuat. Pemikiranku pun mampu dikalahkannya. Aku tak kuasa menahan keinginanku. Padahal kondisi awal-awal berumah tangga menuntut kami untuk banyak berhemat. Suamiku seperti tidak tega untuk melarang keinginanku waktu itu. Mungkin dia bermaksud membahagiakan istrinya.
Mula-mula kami tertarik untuk membeli karpet. Barang yang sebenarnya tidak mendesak kami butuhkan. Kebetulan di rumah kami di Bogor telah ada karpet yang masih bisa dibilang lumayan bagus. “Ah…kan untuk cadangan, nanti kalau-kalau usang bisa langsung ada gantinya”, begitu pintarnya aku menyusun alasan waktu itu”. Dan tidak tanggung-tanggung kami sekaligus membeli dua buah dengan corak berbeda. Setelah berhasil menenteng dua buah karpet, kami pun tersenyum lega karena telah berhasil membawa pulang barang antik itu. Giliran berikutnya adalah beraksi melihat-lihat koleksi guci. Aku pun tertarik untuk membelinya. “Sebuah guci cantik yang akan menambah indah pojok ruang tamu kami”, pikirku penuh harap. Transaksi pu berjalan lancar. Berhasillah kami tenteng sebuah guci cantik khas Yogya ini. Meski kami harus mengeluarkan uang relatif besar, namun pikir kami waktu itu, ”Nggak apa-apalah, sekali-kali, mumpung sudah sampai Yogya, takut menyesal nanti kalau nggak beli apa-apa”. Lagi-lagi kami membela diri.
Kami terus menyusuri sela-sela pedagang yang ramai berjejer di sepanjang jalan Malioboro tersebut. Di tengah keasyikan kami memilih-milih belanjaan, tiba-tiba sebuah tangan mungil, hitam, kotor dan lusuh menjulurkan sebuah kaleng kosong ke arah kami. Selintas sempat membuatku bergumam, “Ah…lagi asyik-asyik begini diganggu. Banyak amat sih…pengemis di dunia ini. Nggak di Bogor, nggak di Yogya…pengemis bertebaran kayak kacang goreng.” Aku korek-korek saku baju untuk mencari-cari di mana terselip uang receh. “Nah…ini dia !!”, kutemukan logam seratus perak. Dengan cepat kumasukkan logam seratus perak tadi ke dalam kaleng pengemis cilik yang lusuh tadi. Seperti hendak membela diri, karena tidak mau dibilang pelit, kikir, nggak punya jiwa sosial serta tuduhan-tuduhan nggak enak lainnya, sempat aku bergumam lagi, “Bukan nggak mau ngasih…habis pengemis jaman sekarang kan banyak pura-puranya, terus suka dikoordinir dan direkayasa gitu. Jadi mau ngasih tuh…rasanya jadi kurang ikhlas.” Ucapku bernada membela diri. Suamiku pun sempat tersenyum melihat adegan itu. Pengemis cilik itu pun berlalu dari hadapan kami. Entah pergi kemana, kami sudah tidak menghiraukannya lagi.
Belum bosan melihat-lihat, kami teruskan langkah sampai akhirnya kami berniat untuk istirahat sambil makan-makan. Kami timbang-timbang, mau makan di Mc Donald atau KFC atau Restoran Cianjuran. Lagi-lagi berperang antara keinginan dan kebutuhan. Takut terlalu merasa bersalah, akhirnya kami makan di sudut Malioboro yang menurut kami nggak mewah-mewah amat. Namun ternyata kami pun terpaksa harus membayar cukup mahal untuk jenis makanan yang kami santap waktu itu. Lagi-lagi kami harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang lumayan besar hanya untuk bisa mencicipi makanan ala Malioboro ini.
Menjelang maghrib kami bermaksud menyudahi acara jalan-jalan yang sedari siang telah kami nikmati. Kami berjalan menuju arah stasiun Kereta Api yang terletak tidak jauh dari arena Malioboro. Dan kami akan segera menempuh perjalanan pulang kembali ke Bogor. Namun alangkah terkejutnya aku, ketika guci yang oleh suamiku diletakkan di sebelahnya tiba-tiba tak sengaja tersenggol kaki kiriku. Pyarrr…..pecahlah guci cantik berharga puluhan ribu itu. Guci yang belum sempat aku pajang dan belum sempat dinikmati oleh tamu-tamu yang datang ke rumahku di Bogor. Guci yang belum sempat aku ceritakan dengan bangganya di hadapan teman-temanku bahwa guci cantik ini asalnya dari Yogya. Sesaat aku termenung memandangi puing-puing guci di hadapan ku. Tak sadar air mataku mengalir deras. Ada sebuah rasa yang sangat dalam menyeruak di hatiku. Melihat ekspresiku waktu itu, suamiku tampak bingung dan tidak mengerti mengapa Aku menangis. Dengan nada menenangkan, suamiku bermaksud membujukku, “Sudahlah, mengapa harus menangis. Kan masih bisa beli lagi…toh kita masih di Malioboro. Tuh… penjual guci itu nggak jauh dari tempat kita berdiri. Ayo kita beli lagi” bujuk suamiku berusaha meredakan tangisku yang tak jua berhenti.
Aku masih belum berkedip memandangi pecahan-pecahan guci tadi. Masih dengan deraian air mata, Aku menggeleng pelan, “Bang…adik menangis bukan karena harus kehilangan dan tidak bisa menikmati guci ini. Adik menangis karena adik takut kepada Allah. Kita telah diberi peringatan langsung oleh Allah, agar kita tidak bermegah-megah dengan hidup ini. Betapa kerdil jiwa kita ini…Bang. Adik ingat…sewaktu kita belanja tadi, ada seorang anak kecil peminta-minta menengadahkan kaleng kosongnya di hadapan kita. Namun apa yang kita lakukan?” “Kita hanya memasukkan logam seratus perak ke dalam kaleng kosongnya. Itu pun sambil bergumam. Bukti ketidakikhlasan kita.” “Adik sedih…kita nggak pernah menghitung-hitung berapa puluh ribu kita harus keluar uang untuk membeli karpet serta membeli guci ini. Kita juga tidak menghitung-hitung berapa banyak uang yang kita kemuarkan hanya untuk sekedar mencicipi makanan di Malioboro ini. Namun kita begitu perhitungan ketika akan memberikannya untuk pengemis kecil tadi. Pengemis itu lebih mendesak membutuhkan uang. Dia mengais rupiah demi rupiah dari orang-orang yang menaruh belas kasihan kepadanya hanya sekedar untuk makan hari ini, sekedar untuk mempertahankan hidupnya hari ini. Tapi kita…mengeluarkan puluhan bahkan ratusan ribu hanya demi sebuah kesenangan dan keinginan semata, bukan suatu kebutuhan. Padahal kalau kita sadar. Betapa puluhan bahkan ratusan ribu yang kita keluarkan untuk membeli karpet dan guci ini akan musnah bersama usangnya karpet dan pecahnya guci. Namun seratus perak yang kita masukkan ke dalam kaleng kosong pengemis cilik tadi, itulah yang akan dilipatgandakan sampai 70 bahkan 700 bulir. Ratusan ribu yang kita keluarkan barusan tidak akan mampu menolong kita di Hari Perhitungan nanti. Seratus perak itulah ” “Kita bersyukur Allah telah memberikan teguran secepat ini, agar kita tidak terlena dan berlarut-larut dalam ketidaksadaran tentang apa yang mesti kita perbuat dalam hidup ini.” Suamiku pun tersenyum dan menganngguk, sambil mengusap kepalaku tanda setuju. [ManajemenQolbu.com]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA.