Rabu, 07 Juli 2010

BERCINTA UNTUK SURGA

BERCINTA UNTUK SURGA

Di tanah Kurdistan, ada seorang raja yang adil dan saleh. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas dan pemberani. Saat-saat yang paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika ia mengajari anaknya itu membaca Al-Quran lalu menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Si kecil Said akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada orang yang memutuskannya. Terkadang ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya, tiba-tiba pengawal masuk memberitahukan ada tamu penting yang harus ditemui. Sang raja pun tahu apa yang dirasakan anaknya. Maka ia memberi nasihat pada anaknya,

"Said anakku, sudah saatnya kau mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka kepadamu. Teman yang baik yang membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga."

"Apa maksud ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?" tanyanya dengan nada penasaran.

"Adalah teman sejati yang dia benar-benar mau berteman denganmu bukan karena derajatmu tapi karena kemurnian cinta itu sendiri. Kemurnian cinta yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dan dengan dasar itu kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan luar biasa dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga."

"Bagaimana caranya mencari teman seperti itu, Ayah?" tanya Said.

Sang raja menjawab, "Kamu harus menguji orang yang hendak kaujadikan teman. Ada cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapa yang kau anggap cocok menjadi temanmu untuk makan di sini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat. Saat itu rebuslah tiga butir telur. Jika ia tetap bersabar baru hidangkanlah tiga telur itu kepadanya, dan lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu, syukur jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu."

Said gembira sekali mendengar nasihat ayahnya. Ia pun mempraktikkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian mereka marah-marah karena hidangannya tidak keluar-keluar. Bahkan ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal. Ada yang memukul-pukul meja. Ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji, memaki-maki karena makanannya lama sekali keluarnya.

Di antara teman anak raja itu ada yang bernama Adil, anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil adalah anak yang baik hati dan setia. Maka ia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang lebih sabar dibandingkan dengan anak-anak sebelumnya. Ia menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus. Melihat itu, Adil berkata keras, "Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!"

Adil tidak mau menyentuh telur itu. Ia pergi begitu saja meninggalkan Said sendirian. Said diam saja, ia tidak perlu meminta maaf pada Adil karena meremehkan makanan yang telah ia rebus dengan kedua tangannya sendiri. Ia mengerti bahwa Adil tidak cukup lapang dada dan tidak cocok jadi teman sejatinya.

Hari berikutnya ia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan padi dari anak raja. Malam harinya sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan banyak. Ia membayangkan makanan anak raja pasti enak dan lezat.

Pagi-pagi sekali anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, ia harus menunggu waktu yang lama sampai makanan keluar. Akhirnya keluarlah piring dengan tiga telur rebus.

"Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum," kata Said seraya meletakkan piring itu di atas meja.

Lalu ia masuk ke dalam.

Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung melahap satu per satu telur itu. Tak lama kemudian Said membawa keluar dua gelas air putih. Ia melihat ke meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Ia kaget.

"Mana telurnya?" tanyanya pada anak saudagar.

"Telah aku makan."

"Semuanya?!"

"Ya, habis aku lapar sekali."

Melihat itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu tidak bisa dijadikan teman setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Karena sesungguhnya Said juga belum makan apa-apa.

Said merasa jengkel dengan anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Mereka tidak pantas dijadikan teman sejati. Akhirnya ia meminta ijin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.

____________

Mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah dan kampung-kampung untuk mencari teman yang baik. Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah ia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubugnya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukkan ia sangat miskin. Namun wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudlu lalu shalat dua rakaat. Said memperhatikan dari balik rumpun pepohonan. Selesai shalat Said datang dan menyapa,

"Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu namamu siapa dan kau tadi shalat apa?"

"Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.

Lalu Said meminta anak itu agar bersedia bermain-main dengannya dan menjadi temannya. Namun Abdullah menjawab, "Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar."

Said menyahut, "Tidak baik kau mengatakan begitu. Kenapa kau membeda-bedakan orang. Semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku. Kenapa tidak kita coba beberapa waktu dulu. Kau nanti bisa menilai aku cocok apa tidak jadi temanmu."

"Baiklah kalau begitu, kita berteman dengan syarat hak dan kewajiban kita sama sebagai teman seia-sekata."

Said menyepakati syarat anak pencari kayu itu. Sejak hati itu mereka bermain bersama. Pergi ke hutan bersama. Memancing bersama. Dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai. Mengajarinya menggunakan panah. Juga mengajarinya memanjat pohon di hutan. Said gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada, dan setia. Akhirnya ia kembali ke istana dengan hati gembira.

Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubugnya. Dalam hati Said merasa kalah, sebab sebelum ia mengundang makan ia telah diundang makan. Dalam gubug mereka makan seadanya. Sepotong roti, garam, dan air putih. Namun Said makan dengan lahap sekali. Ingin sekali ia minta tambah kalau tidak mengingat siapa tahu anak pencari kayu itu sedang mengujinya. Karena itu Said cukup dengan apa yang diberikan kepadanya. Selesai makan Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu mereka kembali bermain, dan Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan yang tidak ia dapatkan di istana. Ia diajari temannya itu jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan. Mana daun dan buah yang bisa dimakan, yang bisa dijadikan obat dan yang beracun.

"Dengan mengenal baik jenis buah dan dedaunan di hutan kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Sebab persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!" kata anak pencari kayu.

Seketika Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat di madrasah seperti yang ada di ibu kota kerajaan saja. Ilmu ada di mana-mana. Bahkan ada di hutan sekalipun. Hari itu Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.

Tatkala matahari sudah condong ke barat, Said meminta diri pada sahabatnya itu untuk pulang, tak lupa Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Ia memberikan secarik kertas pada temannya itu.

"Pergilah ke ibu kota, berikan secarik kertas ini pada tentara yang kautemui di sana. Ia akan mengantarkanmu ke rumahku," kata Said sambil tersenyum.

"Insya Allah aku akan datang," jawab anak pencari kayu.

____________

Pagi harinya, anak pencari kayu itu sampai juga ke istana. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa Said adalah anak raja. Pertama ia ragu untuk masuk istana, tapi mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini ia berani masuk juga. Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang hadir di ruang makan itu, Said pun menguji temannya ini. Ia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun anak pencari kayu bakar itu sudah terbiasa lapar. Bahkan pernah tidak makan selama tiga hari. Atau kadang makan daun-daun mentah saja. Selama menunggu ia tidak memikirkan makanan sama sekali. Ia hanya berpikir seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini tentu dunia akan tenteram. Selama ini ia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan sukanya hura-hura. Tapi ia menemukan seorang anak raja yang santun dan saleh.

Akhirnya keluarlah tiga butir telur masak.

Said mempersilakan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebutir telur itu, apakah akan dimakannya sendiri, atau…?

Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu membelah telur itu jadi dua. Yang satu ia pegang dan yang satunya ia berikan pada Said. Tak ayal lagi, Said menangis terharu. Said lalu memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata,

"Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga."

Sejak itu keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrabnya. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah SWT. Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara untuk belajar dan berguru pada ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.

Setelah berganti-ganti bulan dan tahun, keduanya akhirnya tumbuh dewasa. Raja yang adil, ayah Said meninggal dunia. Akhirnya Said diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali ia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya. Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering melakukan shalat tahajjud bersama dan membaca Al-Quran bersama. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur dan jaya. Baldatun thayyibun wa rabbun ghafur.

(Diambil dari "Bercinta untuk Surga: Kisah-kisah Islami Pembangun Jiwa," Habiburrahman Saerozi)

1 komentar:

TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA.