Kamis, 17 Juni 2010

KONDISI KURIKULUM DI INDONESIA

Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami bebrapa perubahan. Perubahan tersebut merupakan konsekwensi logis dari terjadinya perubahan si
Sistem politik, sosial, budaya, ekonomi dan IPTEK dalam masyarakat berbangsa dan bernegara, karena kurikulum merupakan seperangkat rencana pendidikan yang perlu di kembangkan sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional di rancang berdasarkan landasan yang sama yait pancasila dan UUD 1945, penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Berikut ini adalah perkembangan kurikulum yang ada di Indonesia.
A. Kurikulum 1947
Kurikulum ini merupakan kurikulum yang pertama di Indonesia dan lahir pada masa awal kemerdekaan, kurikulum ini di beri nama leer plan yang dalam bahasa Belanda artinya rencana pelajaran. sehingga kurikulum 1947 ini diberi nama Renjana Pelajaran. Namun Renjana Pelajaran baru dilaksanakan disekolah-sekolah pada tahun 1950.
Pada saat itu kurikulum di Indonesia masih dipengaruhi oleh system pendidikan Jepang dan Belanda, karena suasana kehidupan berbangsa pada saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan, maka pendidikannya adalah “ lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdekan dan berdaulat serta sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini”.
Asas kurikulum ini adalah pancasila dan bentuknya memuat dua hal pokok yaitu : daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya plus garis-garis besar pengajarannya.
Karena Rentjana Pelajaran merupakan kurikulum yang pertama, maka muatan kurikulumnya sangat sederhana, Renjana Pelajaran ini mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, sedangkan materi pelajarannya di hubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
B. Kurikulum 1952
Setelah Rentjana Pelajaran 1947, maka pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan dan diberi nama Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional, pada kurikulum ini silabus mata pelajarannya jelas sekali, seorang guru mengajar satu mata pelajaran.
Yang paling menonjol sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini adalah bahwa “ setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

C. Kurikulum 1964
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali melakukan penyempurnaan sistem kurikulum di Indonesia, kali ini diberi nama Renjana Pendidikan 1964.
Yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa “ pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD”.
Pada kurikulum 1964 ini pembelajaran dipusatkan pada program “ Pancawardhana yaitu daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral “. Sedangkan mata pelajarannya diklasifikasikan dalam 5 kelompok bidang study yaitu :
1. Pengembangan moral
2. Kecerdasan
3. Emosional atau artistik
4. Keprigelan atau ketrampilan
5. Jasmani
D. Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan, dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar dan kecakapan khusus.
Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekwensi. Dari segi tujuan pendidikan kurikulum 1968 bertujuan bahwa “ Pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia pancasila sejati, kuat dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan jasmani, moral, budi pekerti dan keyakinan beragama“.
Adapun isi pendidikannya yaitu “ diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat”.
E. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 merupakan pengganti dari kurikulum 1968, pada kurikulum ini telah banyak mengalami penyempurnaan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya, karena pada saat itu telah banyak gagasan baru terhadap program pelaksanaan sistem pendidikan nasional.
Adapun prinsip pelaksanaan kurikulum 1975 serta komponen komponen kurikulum 1975 adalah .
1. Prinsip pelaksanaan kurikulum 1975
a. Berorentasi pada tujuan
b. Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang integrative.
c. Menekankan kepada efisiensi dan efektifitas dalam hal daya dan waktu.
d. Menganut pendekatan sistem intruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional ( PPSI ). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yahng spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
e. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang jawab ) dan latihan (drill).
2. Komponen kurikulum 1975
a. Tujuan institusional baik SMP maupun SMA
Tujuan institusioanal adalah tujuan yang hendak dicapai lembaga dalam melaksanakan program pendidikannya.
b. Struktur Program Kurikulum
Struktur program adalah kerangka umum program pengajaran yang akan diberikan tiap sekolah.
c. Garis-Garis Besar Program Pengajaran, meliputi :
1) Tujuan kurikuler, yaitu tujuan yang harus dicapai setelah mengikuti program pengajaran yang bersangkutan selama masa pendidikan
2) Tujuan intrukssional umum, yaitu tujuan yang hendak dicapai dalam setiap satuan pelajaran baik dalam satu semester maupun satu tahun.
3) Pokok bahasan yang harus dikembangkan untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para siswa agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
4) Urutan penyampaian bahan pelajaran dari tahun pelajaran satu tahaun ke tahun pelajaran berikutnya dan dari semester satu ke semester berikutnya.
d. Sistem penyajian dengan pendekatan PPSI ( Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional )
e. Sistem Penilaian
Penilaian diberikan pada setiap akhir satuan pelajaran tertentu, yaitu memberikn penilaian pada akhir semester atau akhir tahun saja.
f. Sistem Bimbingan dan Penyuluhan
g. Supervisi dan Administrasi
Menjelang tahun 1983 dab seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi,kurikulum 1975 ini sudah dianggap tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kurikulum 1975 ini juga banyak mendapat kritikan karena guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pelajaran.
F. Kurikulum 1984
Pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 ke kurikulum 1984,karena kurikulum 1975 sudah dianggap tidak sesuai lagi dan kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan terhadap kurikulum 1975.
Adapun cirri dari kurikulum 1984 adalah sebagai berikut.
1. berorentasi pada tujuan intruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas disekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu sebelum memilih atau menetukan bahan ajar yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
2. pendekatan pengajarnnya berpusast pada anak didik melaalu cara belajar siswa aktif (CBSA).CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik,mental intelektual dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalam belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, efektif maupun psikomotor.
3. materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasasn bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semkin tinggi kelas dan jenjang sekolah. Semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.
4. menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan pada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjuk pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
5. materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa.
G. Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 di buat sebagai penyempyrnaan kurikulum 1984 dabn dilaksanakan sesuai dengan undang-undang no : 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pembelajaran yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagianya dalam satu tahun menjadi tiga tuhun diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.
Ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, diantaranya sebagai berikut ;
1. pembagian tahapan pelajaran disekolah dengan sistem caturwulan
2. pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat ( berorientasi kepada materi pelajaran atau isi )
3. kurikulum 1994 bersifat populis yaitu memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua sistem diseluruh Indonesia. Kurikullum ini bersifat kurikulum inti, sehinga daerah yang khusus dapat menggembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
4. dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendakya memilih dan mengunakan srategi yang melibatkan siswa aktif belajar baik secara mental, fisik dan sosial dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divengen ( terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban ) dan penyelidikan
5. dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep / pokok bahasa dan perkembangan berfikir siswa sehingga di harapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah
6. pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak dari hal yang mudah dari hal yang sulit dan dari hal yang seder hana ke hal yang komplek.
7. pengulangan-pengulangan materi yang di angap sulit perlu di lakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
Selama dilaksanakanya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada peguasaan materi di antaranya :
1. beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/ subtansi setiap mata pelajaran.
2. Materi pelajaran di anggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berfikir siswa dan kurang memakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
Karena adanya beberapa masalah tersebut, maka pemerintah melakukan kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum, yaitu sebagai upaya untuk menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan kebutuhan masyarakat , dan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar.
H. Kurikulum 2002
  Usaha pemerintah maupun swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus dilakukan, seperti penyempurnaan kurikulum, oleh karena itu salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi dibidang kurikulum.
 Indikasi pembaruan kurikulum dijelaskan oleh firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 106 yaitu :
 ما ننسح من اية او ننسها ناءت بخير منها اومثلها الم يعلم ان الله على كل شئ قدير Artinya : “ Ayat yang kami batalkan atau kami hilangkan dari ingatan, pasti kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidaklah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. ( Q.S : Al-Baqoroh :106 ).

 Pernyataan ayat diatas memberikan isyarat bahwa penerapan kurikulum yang sudah tidak efektif dan tidak relevan lagi dengan kehidupan anak didik yang sarat dengan perubahan perlu diadakan perubahan dan pembaharuan. Yaitu dengan kurikulum baru yang lebih memberikan kontribusi terhadap perkembangan kemajuan anak didik dalam mengikutim proses pembelajaran.
 Oleh karena itu kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan zaman serta perubahan structural dalam pemerintahan, dari sentralistik menjadi desentralistik sehingga dikembangkan kurikulum baru.
1. Yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Pengertian kurikulum berbasis kompetensi menurut Mulyasa adalah : suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.
Kurikulum dalam kurikulum berbasis kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah, dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.
Sedangkan pengertian kompetensi adalah “ pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”.
2. Landasan hukum
I. Kurikulum 2006

D. Indikator Pencapaian
 Indicator Pencampaian dimaksutkan adalah kemampuan-kemampuan yang lebih spesifik yang dapat di jadikan sebagai ukuran untuk menilai ketuntasan belajar.
 Selanjutnya pengembangan kurikulum 2004 yang cirri peradikmanya adalah berbasis kopetensi akan mencakup pengembangan silabus dan sistem penilainya.
 Silabus merupakan acuan untuk melaksanakan dan perancanaan program pelajaran, sedangkan sistem penilain mencakup jenis tagihan, bentuk insrumen dan pelaksanaanya. Jenis tagian adalah berbagai tagihan seperti ulangan atau tugas-tugas yang harus di kerjakan oleh peserta didik. Sedangkan bentuk instrument terkait dengan jawaban yang harus dilakukan oleh siswa seperti bentuk pilihan ganda atau bentuk soal uraian.
 Kurikulum berbasis kopetensi ini merupakan pilihan pemerintah sebagai salah satu strategi yang diharapkan dapat membawa anak bangsa menjadi generasi yang sanggup menjawab segala tantangan budaya, arus teknologi, informasi dan globalisasi.
1. Kurikulum 2006
Kurikulum 2006 dinamakan Kurikulum Tingkat satu Pendidikan (KTSP) yaitu kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan KTSP merupakan sala satu bentuk realissasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masssa sekarang dan di masssa yang akan datangdengan mempertimbangkan kepentingan local, nasdional dan tuntunan global.
Dengan lahirnya KTSP, menunjukkan bahwa desentralisasi pendidikan bukan hanya kedaerah-daerah, melainkan kesekolah-sekolah. Sekolah menjadi lebih otonom dalam melaksanakan tugas pokoknya untuk mencerdaskan peserta didik. Karena guru dan pihak sekolah diberi wewenang yang luas untuk menyusun sendiri kurikulumnya dengan berpegang pada standar isi dan standar kompetensi lulusan serta paduan-paduan yang telah disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Dengan demikian kurikulum di Indonesia menjadi sangat bervariasi dalam banyak hal, kecuali dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang sudah ditetapkan secara nasioanal oleh pusat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA.